Curhat sang Penulis Cinta

OLYMPUS DIGITAL CAMERAHeeeheeee, sebenarnya tidak ada keterkaitan antara isi curhatanku ini dengan judul yang aku pakaikan. Semua hanya didasari kekaguman pada seorang penulis. Habiburahman el Shirazy, alias kang Abik. Hampir semua novelnya laris manis di pasaran. Hampir semua novelnya mengharubiru, dan bisa memainkan emosi pembacanya. Dan seingatku, semua novelnya menyelipkan kata ‘cinta’ di tiap judulnya.

Terinspirasi hal ini, membuatku ingin mengikuti jejak kang Abik. Walau buatku baru sebatas postingan di blog saja. Walau isinya hanya curhatan saja. Tapi aku berniat mengadopsi hal unik itu. Terasa nyaman saja di hati ketika ada satu kata, yang selalu dipakai di tiap judul postinganku. Setelah memikirkannya dengan sebaik2nya dalam tempo sesingkat2nya, heheeehee, akhirnya diputuskan memakai kata ‘cinta’. Karena cinta itu indah, karena cinta itu abadi, karena cinta itu universal. Yang jelas karena cinta terasa nyaman di hati, uhuuyyyyy!!! Demikian curhatanku seputar pemilihan judul, yang kadang tidak nyambung dengan isinya.

Akhir2 ini aku sedang dilanda rasa malas untuk memposting curhatanku. Kebalikan dari kemalasan itu, aku tengah rajin-rajinnya ikut beberapa lomba kepenulisan. Anehnya aku bukan mengincar hadiahnya. Tapi rasanya ada sebuah kepuasan, saat tulisanku bisa lolos sebagai pemenang. Lagipula saat ini, mengirim tulisan terasa begitu mudahnya. Bahkan hanya berselang beberapa menit sebelum deadlinepun, naskah tetap bisa ikut serta. Tinggal dikirim ke email penyelenggara, dalam hitungan detik naskah itupun bisa dibuka di seberang sana.

Ini pengalamanku belum lama, saat aku mendapat informasi tentang lomba menulis, untuk satu rubrik di majalah wanita terkemuka. Saat membaca info itu, belum terpikir akan menulis apa, karena topik yang diminta cenderung unik. Sampai paginya di hari H pun, aku belum mulai menuliskan satu katapun. Namun ada rasa yang kuat buat mengikuti lomba ini. Menjelang maghrib, mendadak ide2 itu seperti berloncatan dari batok kepalaku. Tak mau kehilangan momen, buru2 kutuangkan dalam bentuk tulisan. Dan tadaaaaa……sejam sebelum waktu DL, tulisan itu, aku selesaikan. Tapi, kendala kembali menghadang, saat aku ingin mengirim naskah tersebut, berkali2 naskahku kelempar lagi. Tidak mau menyerah, aku kirim sampai 6 kali. Lalu setelah itu aku cuma bisa pasrah sekaligus tidak berharap apa2. Lah kondisi naskahnya saja tidak ketauan rimbanya.

Tentu saja surprise, saat suatu pagi ditelpon oleh majalah tersebut. Kabar bahagia kalau naskah yang sudah diikhlaskan hilang itu, ternyata menjadi salah satu pemenang. Dan Alhamdulillah, walau tidak mengejar hadiahnya, aku toh menikmati hadiah kemenangan itu. Secara tidak lama berselang, hadiahnya sudah ditransfer ke rekeningku.

Itu curhatan sukanya, curhatan dukanya juga ada. Seperti hari ini, baru baca info, kalau naskah yang aku ikutkan lomba ‘menulis surat untuk Dahlan Iskan’, tidak lolos sebagai finalis. Dari lebih 300 naskah yang masuk, yang dipilih memang hanya 20 finalis. Dan aku termasuk yang tidak terpilih, hiksss…hikkssss…. Dari awal sebenarnya aku sudah merasa kalau naskahku kurang menggigit. Tapi berhubung aku ngefans sama si Bapak satu ini, ditambah aku baru kelar membaca buku Sepatu Dahlan, jadilah setengah memaksakan untuk merangkai kata, walau kurang greget jadinya. Kecewa, ya tetap kecewa dong, manusiawi sekali. Tapi tidak mau berlarut-larut. Masih banyak kesempatan dan event yang akan kumenangkan, hiiiihiiiiii optimis deyy.

Sebenarnya menang kalah, sudah sering aku alami. Hitung2 prosentase dari sepuluh naskah yang dikirim, separonya menang, dan separonya kalah. Dari lomba kelas ‘ecek2’ sampai lomba yang agak berkelas lah. Namun, tidak menyurutkan niatku. Seorang teman, penulis senior, pernah bilang, “kalah dalam satu lomba, bukan berarti tulisan kita tidak layak, atau tidak bagus. Tapi lebih karena tulisan kita tidak sesuai selera dewan jurinya.” Nah bagus juga kata2nya. Anggap saja semua tulisanku bagus dan menarik. Tapi tidak semua cocok dengan selera dewan jurinya, heheeheee.

Saat ini, jujur sebenarnya aku tengah penasaran dengan hasil audisi naskahku. Bulan lalu naskah2ku aku ikutkan audisi untuk buku antologi. Naskah2, yaaa….karena untuk satu antologi aku mengirim dua naskah, dengan harapan peluang lolosnya lebih besar. Sedangkan untuk satu antologi lainnya, hanya diperbolehkan mengirim satu naskah terbaik. Dan pengumuman kedua audisi ini, dijanjikan dalam satu dua hari ini. Bismillah, mudah2an lolos dua2nya. Menyusul dua audisi naskah sebelumnya, yang aku ikuti, dan lolos dua2nya. Walaupun belum menerbitkan buku solo, tapi senang juga naskah2ku bisa mejeng di buku antologi terbitan penerbit mayor, seperti Gramedia.

Akhir kata, demikianlah curhat sang penulis cinta, wwkwkwkkk. Curhat jatuh bangun, naik turun dalam mengejar mimpi. Yang pasti mimpi besar buat menjadi seorang writer kelas kakap. Punya buku2 solo, dan menjadi best seller. Dan tentunya bisa membuat tulisan2 yang menginspirasi banyak orang. Seperti banyak pengarang favoritku. Siapa?? Berhubung aku suka membaca, dan punya banyak koleksi buku, sehingga daftar pengarang favoritku pun buanyakkkk. InsyaAllah diperkenankanNYA, Aamiin YRA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s