Pakaian Takwa, Kerudung Cinta

OLYMPUS DIGITAL CAMERAKutangkupkan kedua telapak tangan ini ke wajahku. Kuakhiri doa panjang di awal hari, di subuh yang terasa begitu bening. Di kebeningan pagi, di kedamaian subuh ini, kupuaskan dahagaku untuk memohon kepadaNya. Semakin terasa nikmatnya, karena subuh ini adalah subuh ke sepuluh di Ramadhan tahun ini. Perlahan tangan kananku menyusut kedua ujung mata. Ada titik-titik air disana, yang bukan hanya menggantung di kedua sudut mata, namun telah menganak sungai di kedua pipiku. Selalu, dan selalu saja, sulit buatku menahan perih dan pedih, bila ingatanku melayang kembali kepadanya. Apalagi bila Ramadhan datang, memory bersamanya akan kembali berputar kencang di otakku. Namun toh dalam kesedihan itu, tetap ada senyum tersungging. Betapa indah ‘kepergian’nya, seindah teguran yang dikirimkannya untukku.

Namanya Yoniko, adik laki-lakiku, yang paling dekat denganku. Karena dekatnya, sampai terkesan dia begitu manja padaku. Kadang-kadang Mama menggodaku, bilang bahwa anak sulungku sudah besar, sudah kuliah. Karena apapun yang dialaminya selalu dia ceritakan padaku. Kami kemudian seperti punya ritual pagi, yakni saling bertelepon sebelum memulai aktifitas hari. Intensitasnya semakin meningkat, setelah Mama ‘pergi’ dari kami, karena sakit yang diidap Mama. Jadwal teleponnya bertambah dimalam hari, disaat kami selesai dengan semua aktifitas hari itu. Kepergian Mamalah yang membuat kami semakin bertambah dekat. Dan rutinitas itu tidak berubah sama sekali, sekalipun dia bukan anak kuliahan lagi. Kesibukan di kantornya, sebagai karyawan baru, sama sekali tidak mengurangi intensitasnya menelponku. Memang kemudian, nada-nada gembira dan bahagia semakin terasa dalam percakapan kami. Dia memang sedang sangat bersemangat dengan masa depannya. Kelulusannya, dan kemudian tawaran bekerja yang berprospek baik, membuatnya terlihat makin optimis menyongsong hari. Minimal hal itu membantu dia, menekan perasaan kehilangan Mama.

10 Ramadhan, tahun 2008, selalu aku mengilasbalik kejadian itu. Bila kuhitung dengan Ramadhan tahun ini, berarti sudah 4 tahun berlalu. Dua kejadian yang terjadi pada hari itu, tidak akan pernah terlupakan. Masih segar diingatanku, betapa hari itu menjadi kehilangan terbesarku, setelah kepergian Mama. Adikku yang waktu itu begitu muda, begitu sehat, begitu optimis dengan masa depannya, mendadak dipanggil menghadapNya. Mendadak, sangat mendadak, tanpa pernah terlintas sedikitpun dalam lintasan pikirku. Betapa ‘umur’ kemudian memang menjadi hak prerogatif Allah. Tiada seorangpun yang dapat memprediksinya. Tanpa seorangpun bisa berencana atasnya. Tiada harus menunggu tua, tiada harus menunggu sakit, bila ‘panggilan’ itu telah datang, tidak ada seorangpun yang bisa menghalangnya.

Dalam sedu sedanku, dalam isak tangis piluku, dalam duka yang sangat dalam, aku seperti diingatkan akan sesuatu. Diingatkan hatiku untuk segera bertaubat kepadaNYA, kembali melangkahi jalan kebenaranNYA. Telah lama sesungguhnya niat itu terkatung-katung. Niat yang sebenarmya pernah terbersit dihati, bukan cuma sekali bahkan berkali-kali. Namun godaan syetan dan keangkuhan diri, membuat niat itu hanya tinggal niat. Buat kebanyakan orang mungkin tidaklah sulit untuk bermetamorfosis, berubah menuju kebaikan. Namun lagi-lagi, syetan memiliki loyalitas yang sangat tinggi buat menggoda keimanan seseorang. Dan kepergian adikku, seperti membangunkan kesadaranku kembali. “Apa yang terjadi bila aku yang mendadak dipanggilNYA?” tanya hati kecilku. Sementara aku sangat tidak siap untuk itu, aku belum punya bekal yang cukup. Bahkan penampilanku saja, sangat jauh dari kesan santun dan islami. Aku yang masih suka dengan rok miniku, masih sangat nyaman dengan celana jeansku, masih memakai kaus pas badanku, masih menjadikan gaun-gaun feminin yang seksi sebagai favoritku. Padahal aku sangat-sangat paham dengan aturan berpakaian secara islami. “Seorang muslimah yang tidak menutup auratnya dengan sempurna, jangankan syurga, wangi syurgapun takkan dapat dia menciumnya,” masih terngiang jelas nasehat seorang sahabat. Berkali-kali aku diingatkan orang tua, adekku, sahabatku, namun tetap saja hatiku belum tergerak.

Aku masih sangat bangga dengan kecantikan lahiriahku. Aku masih sangat takut pesonaku akan memudar setelah mengganti gaya busanaku. Aku masih cemas, rambut hitamku yang cantik ditutupi dengan selembar kain tipis bernama jilbab. Entahlah, sulit sekali hatiku bergerak ke arah yang lebih baik. Padahal, bila dilihat orang tuaku yang sangat taat dengan ajaran agama, harusnya aku tidak sulit melakukannya. Demikian pula dengan lingkungan pergaulanku, aku yang waktu itu kuliah di PTN di Bogor, saat itu begitu kental dengan nuansa islami. Belum lagi dukungan dari adikku, untuk mulai merubah gaya berpakaianku. Tapi seperti kusebut diatas tadi, syetan sangat loyal buat menggerogoti imanku. Bujukan Mama, aku lewatkan saja. Nasehat Papa, aku abaikan. Rayuan adikku, aku biarkan bagai angin lalu. Apalagi ajakan sahabat-sahabatku, tidak pernah kuanggap ada. “Sudah membatukah hatiku?” kadang tanya itu terlontar dihati. Karena aku sadar dengan semua aturannya, namun mengapa sulit sekali buat melaksanakannya. Apalagi setelah aku keluar dari dunia kampus, masuk ke lingkungan kerja di metropolitan. Semakin jauhlah aku dari kemungkinan itu. Jujur, aku tiada akan lupa dengan kewajiban seorang muslimah, untuk menjulurkan jilbabnya. “Ada apa denganku?”

Juga masih kuingat dua bulan sebelum ‘kepergian’ Mama, aku sempat bertelepon dengan beliau. Memang semenjak lulus SMU aku melanjutkan kuliah ke kota hujan, Bogor. dan setelah lulus kuliah, aku mulai bekerja di kota metropolitan Jakarta. Jauh…jauh…..dari rumah kami, dari keluarga, dari kota kami, yang ada diseberang pulau. Maka komunikasi paling intens dengan bertelepon. Dan, saat itu, dalam kondisi sakit, Mama masih sempat membujukku untuk segera menutup auratku. Menjalankan perintah Islam secara utuh, dan menjadi muslimah yang baik. Memang aku kemudian mengiyakan, sebatas untuk menyenangkan hati Mama. Sampai waktu Mama habispun, janji itu tak pernah aku tepati. Aku memang mulai membeli beberapa pakaian bertangan panjang, beberapa helai jilbab, namun tetap saja, barang-barang itu hanya menjadi penghias lemari pakaianku. Setelah Mama tidak ada, Papa kemudian mengambil alih membujukku. Papa selalu mengingatkan janjiku pada Mama. Tapi, lagi-lagi, hanya ‘iya’ di bibir saja, walau entah kapan terealisasi.

Sampai kemudian peristiwa itu terjadi, 10 Ramadhan 1428 H, tahun 2008, aku menerima kabar duka itu. Telepon dari Bandung yang mengabarkan bahwa adikku, adik kesayanganku telah berpulang. Betapa hancur hatiku, sesaat aku seperti merasa diriku sudah tidak menjejak lagi di bumi. Sesaat aku merasa seperti layang-layang putus. Tangisan pilu takkan bisa mengembalikannya, ratapan sedih takkan bisa membawanya kembali. Seperti ada kekuatan yang menggerakkan hatiku untuk meraih baju islami dan selembar jilbab. Dan, dalam perjalanan Jakarta-Bandung, tercetus niat itu, niatku untuk menggunakan pakaian takwa ini, tiada akan kulepas lagi. Kuteguhkan hatiku, inilah langkah awal pertaubatanku.

Adikku pergi dalam ketenangan, di bulan barokah ‘Ramadhan’, tanpa sakit, begitu tenang dan damai. Teman-teman dikostnyapun menceritakan hal itu. Betapa bersihnya wajah adikku beberapa minggu sebelum kepergiannya. Kesantunannya, kebaikan hatinya, ketulusannya dalam berbuat, membuat begitu banyak orang-orang yang sayang kepadanya. Aku yakin dia telah berada di tempat indah disana. Namun satu hal yang menggugah hatiku, betapa indahnya dia menegurku. Kepergiannya membuatku tersadarkan, membuatku diingatkan kembali akan janjiku pada Mama. Betapa sayangnya adikku kepadaku, betapa kepergiannya memberi hidayah kepadaku, untuk bertaubat pada Allah SWT.

Empat tahun berlalu, kesedihanku akan kepergiannya belum benar-benar usai. Dalam bening pagi, dalam sendunya Subuh, acap kutadahkan tangan memohon padaNYA. Memohon semua kebaikan untuk orang tuaku dan dia disana, adikku tercinta. Beberapa kali dia hadir dalam mimpiku. Dan semua mimpi itu kuanggap pertanda doa-doaku untuknya diijabah Allah. Yang pasti, sejak hari itu, empat tahun lalu, kuubah niatku. Kusingkirkan semua pakaian-pakaian kebanggaanku, kuhapuskan kesombongan akan kecantikan lahirku. Tiada arti semua di mata Allah, hanya kecantikan hatilah, yang bernilai tinggi di mataNYA. Lagipula, kepergiannya yang begitu mendadak, membuatku tersadar, akan persiapanku di hari nanti. “Apa yang telah aku siapkan buat bekalku?” tanya itu berkali- kali seperti menamparku. Perlahan, kuperbaiki diriku, seperti aku mulai memperbaiki busanaku. Sesungguhnya kini, betapa nyamannya pakaian takwa ini kukenakan. Tiada yang salah dengan kerudungku ini. Semua sempurna, membantu ikhtiarku untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. Membantuku untuk menjadi pribadi yang semakin bertakwa kepadaNYA. Aamiin YRA
(didedikasikan buat yang tersayang, adikku, alm.Yoniko Yaznil)

4 thoughts on “Pakaian Takwa, Kerudung Cinta

  1. innalillahi wa innailaihi rojiun, saya ikut berduka mbak, saya pernah dekat dengan almarhum yang seingat saya dipanggil Oon, dan sampai sekarng boneka cumi pemberiannya masih saya simpan. Saya baru sadar kenapa namanya tidak pernah saya temukan di jaringan sosial manapun, baru hari ini saya mengetahui bahwa ‘uda’ (begitu saya memanggilnya) sudah tiada. Smoga almarhum selalu diberikan kelapangan di dalam kuburnya, dan mbak pun akan selalu diberi kekuatan dan ketetapan dalam iman islam, amin yra.

  2. Sebelumnya izinkan saya untuk mengucapkan belasungkawa untuk temanku yoniko yaznil. Hampir 7 tahun ga ada kabarnya ternyata beliau sudah menghadap ke Yang Kuasa. Semoga beliau tenang di sisiNya
    Saya teman kostnya yoniko dr awal 2000 sampai 2004 sewaktu kuliah di Unpad Jatinangor, mungkin yoniko pernah cerita sama kk tentang saya. Saya baru td malam dapat kabarnya dr teman saya sekaligus teman yoniko juga mengenai kabar alm. Saya dari tahun 2005 tidak pernah mendengar kabar alm lg karena no hpnya sudah tidak aktif lg dan saya juga terlalu sibuk dengan skripsi saya. Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada alm atas kebaikannya selama bersahabat dengan saya dan meminta maaf kepada alm jika ada khilaf/salah saya yang belum saya sampaikan kepada beliau.
    Kalo kk berkenan,saya mau menghubungi kk via telp mengenai alm yoniko.

  3. isinya cukup menyentuh…,bagus sekali, sudah seperti gaya mira W dalam menulis novel hehee..
    boleh kasih masukan sedikit…: hanya saja isinya terlalu “to the point”, kalo ditambah ulasan yang lebih dalam lagi disaat moment suasana hati yang haru (saat kehilangan Yoniko) yang akhirnya membawa ke perubahan sikap dan pandangan hidup yang lebih religius, mungkin itu akan lebih baik lagi.
    inti nya di point itu yang ditambahkan guna membuat larut dan hanyut pembaca mengikuti suasana hati dari penulis…,pembaca sambil membaca secara gak langsung akan membandingkan dengan dirinya sendiri, mungkin dengan begitu itu akan lebih mengangkat isi dan alur cerita, dan menyentuh lebih dalam sisi bathin sang pembaca..,sehingga akan lebih bisa merasakan aura dari sang penulis, selanjutnya diharapkan akan bisa meng inspirasi bagi para pembaca nya, khusus nya pembaca kaum hawa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s