Pelukan Cinta

DSC00803Entah kenapa malam ini mendadak aku teringat dengan ‘pelukan’ itu. Bukan pelukan dari suami, atau anak2. Bukan pula pelukan dari saudara, atau seseorang yang kukenal. Terasa istimewa, karena pelukan itu diberikan oleh seseorang yang sama sekali tak kukenal. Tapi anehnya, aku bisa merasakan keikhlasan cinta dalam pelukan itu. Hebat ya, bahasa cinta memang bisa diterjemahkan dalam banyak cara, termasuk pelukan. Lebih hebatnya lagi, komunikasi verbal kami justru sama sekali tidak bertemu.

Pelukan yang kubahas diatas, diberikan oleh seorang nenek. Tepatnya nenek-nenek Arab. Mungkin karena selintas, tadi di salah satu tv lokal, aku melihat liputan tentang pelaksanaan ibadah haji. Otomatis ingatanku, langsung tersambung ke memory perjalanan religi kami, ke ‘holy land’. Dan cerita tentang pelukan itu, kemudian memang menjadi salah satu kenangan favoritku.

Siang itu aku bergegas, menyusuri jalan dari hotel tempat aku dan suami menginap, ke Masjid Nabawi. Tidak ingin kehilangan waktu, buat melakukan ibadah di masjid indah itu. Di tempat yang sudah kami sepakati, aku dan suami berpisah jalan. Ini dikarenakan pintu masuk buat laki2 dan perempuan memang terpisah. Setelah melewati pemeriksaan ketat ‘askar’ di pintu masuk, kulangkahkan kaki ke dalam. Kesejukan segera menyapa, bukan hanya hati dan jiwa yang terasa sejuk, begitu masuk ke Masjid Nabawi, mata-pun begitu dimanjakan dengan keindahannya. Buat aku pribadi, Masjid Nabawi di Medina, adalah salah satu masjid terindah.

Kucari posisi yang lebih kedepan, mencoba menemukan tempat yang ‘enak’. Biar lebih khusuk shalatnya, biar lebih panjang doa-doanya. Walaupun sebenarnya kekhusuk-an itu ada di hati. Setelah mendapatkan tempat yang pas, segera kugelar sajadah, kulanjutkan dengan shalat sunat, sebelum shalat dhuhur dimulai. Dzikir dan doa-doa panjang, menyambung shalat sunatku. Beberapa kali dalam doaku, kupintakan Allah beri aku pertanda, tentang Mama. Jujur, berada di tanah suci ini, membuat kerinduanku pada almh. Mama semakin dalam. Doa khusus buatnya selalu kukirimkan, namun ego-ku,membuatku ingin mendapatkan pertanda itu.

Kekhusukan doaku sedikit terpotong, saat seseorang berdiri disampingku. Kebetulan memang sisi sebelah kananku sebelumnya masih kosong. Bukan kehadirannya yang membuatku terusik, namun aromanya yang sangat mengusik indra penciumanku. Kusegerakan menutup doa2ku, dan kuamati sosok disebelah kananku itu. Seseorang nenek, berwajah Arab, namun bertubuh kecil, berpakaian serba putih. Nenek itu masih melaksanakan shalat sunat. Sempat terbetik keinginan dihatiku, untuk mencari tempat yang lain. Jujur, bila mengikuti egoku, aroma kurang sedap yang menguar dari tubuh si-nenek itu, sangat menggangguku. Syukurnya, kesadaranku cepat pulih, kuyakin ini ujian dariNYA. Keinginan buat berpindah tempatpun segera kutepis.

Merasa aku perhatikan, begitu selesai shalat, si nenek itupun balas menatapku. Wajah teduhnya menyapaku hangat. Saat kubalas dengan senyumanku yang terkenal ‘maut’ (heeheeheee), nenek ini semakin berani buat berakrab-akrab. Dia mulai mengajakku bicara, dalam bahasa yang sama sekali tak kumengerti. Walau akhirnya memakai bahasa tarzan, namun cukuplah buat merintang waktu sebelum adzan Dhuhur berkumandang.

Hingga, tak berapa lama, mata si nenek singgah di sajadah yang kupakai. Tangannya mengusa-usap sajadahku. Lalu mulai bicara lagi, dalam bahasa ‘planet’ itu. Kutarik sajadahku, kusodorkan kepadanya. Disambutnya dengan antusias, dikaguminya bordiran Padang yang menghiasi sekeliling sajadah. Kekagumannya terhenti oleh kumandang adzan Dhuhur. Awalnya kuberharap sajadahku segera dikembalikan, karena shalat segera akan dimulai. Namun entah kenapa, sajadahku tetap berada di pangkuannya. Berpikirku, mungkin nenek ini menginginkan sajadah itu. Segera dalam bahasa tarzan, kuberikan sajadah itu kepadanya. Toh aku masih punya cadangan, dua sajadah lagi di koperku, pikirku.

Luar biasa, sambutannya. Gembira dan bahagia sekali si nenek ini, begitu tahu, aku berikan sajadah itu kepadanya. Diciuminya berulang kali sajadah itu. Kemudian diraihnya tubuhku, dilumatnya dalam pelukannya. Erat dan hangat pelukan itu. Masih belum cukup, wajahku dihujaninya denga ciuman bertubi-tubi. Lalu kembali aku dipeluknya. Setitik air mata bahagia menggayut di kedua ujung mataku. Alangkah mudahnya membuat hati ini bahagia. Sekejap yang lalu aku masih terganggu dengan aroma tidak sedap itu. Lalu sekejap kemudian, aku sudah lupa dengan hal itu, justru aku sedang menangis bahagia.

Akhirnya memang adegan ala sinetron itu harus di’cut’ dulu. Waktunya buat shalat Dhuhur berjamaah. Si nenek ini langsung menggelar sajadahku, untuk tempat shalatnya. Aku tersenyum kecil, biarlah shalat kali ini aku tanpa sajadah. Karpet tebal yang membentang sudah cukup buat alas shalatku. Shalat Duhur, dan beragam ritual tambahan sudah aku selesaikan. Saat aku melongok ke sisi kananku, nenek tadi sudah menghilang. Padahal belum lama aku masih merasa dia disebelahku. Yang lebih anehnya lagi, baru kusadari, saat nenek itu memelukku, tak tersisa sama sekali aroma tidak enak, yang sebelumnya mengganggu indra penciumanku. Aneh, bayangkan saja aku berada di pelukannya, pipi dan dahiku bertubi-tubi diciuminya, namun tak setitikpun tersisa bau itu.

Malaikatkah nenek yang tadi berada disebelahku?? Apakah ini pertanda, yang beberapa kali kusebut dalam doa2ku?? Entahlah, tiada jawab pasti yang kutemukan. Yang jelas, aku sempat diuji dengan bau tidak sedap itu. Seandainya saat itu aku memutuskan pindah tempat, mungkin akan lain endingnya. Dan apa maksudnya, dengan sajadah yang diminta nenek itu?? Entahlah pula, kembali aku tak punya jawabnya. Hanya satu yang kurasakan saat itu. Damai, kedamaian yang begitu dalam. Juga kepuasan, karena bisa membuat bahagia seorang nenek. Walau hanya dengan sebuah sajadah. Terlepas dari, apakah ini ujian Allah buatku. Kedamaian dan kepuasan itu sudah cukup untukku.

Sekembalinya ke tanah air, kisah pelukan nenek itu masih tetap menjadi favoritku. Bahkan setelah lama berjalan waktu, kisah itu tetap kukenang dengan manis. Salah seorang adikku, sempat mengatakan,” mungkin itu malaikat yang diutus Allah.” Malaikat yang disuruh menyampaikan pelukan rindu Mama untuk Uni, ” katanya. Benarkah?? entahlah juga. Tentu, aku berharap hal itu benar adanya. Namun, seandainyapun hal itu tidak benar, juga tidak mengapa. Paling tidak aku punya sebuah kisah yang bisa aku ceritakan kembali. Alhamdulillah!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s