Cinta Tere Liye

OLYMPUS DIGITAL CAMERAUppsss….jangan salah dulu dengan “cinta tere liye” diatas tadi. Maksudnya aku sekarang sedang cinta banget dengan buku2 nya Tere Liye. Hampir semua buku yang ditulisnya sudah aku baca. Dan, harus aku akui, si ‘bapak’ yang satu ini memang jago sekali. Tulisannya mengalir, topiknya selalu yang pernah jadi topik hangat, penjiwaan tokohnya kuat, setting ceritanya-pun detil sekali, seolah2 dia pernah bertahun menetap disana. Bukan hanya cinta sama buku2nya, akupun pengen sekali menulis buku seperti dia. Bisakah?? Mudah2an bukan sekadar impian.

Mengenalnya bermula dari ‘Hafalan Shalat Delisa’, buku karangan Tere Liye yang sempat difilmkan. Jujur, gara2 bukunya, aku sempatkan pula menonton filmnya. Walaupun ga munafik, aku tidak begitu suka film2 nasional. Memang sih, jauh lah, penggambaran di buku dan di film. Sepertinya ekspektasiku terlalu tinggi saat awal menonton filmnya. Agak kecewa juga sih, tapi ok-lah, buat menjawab rasa penasaranku.

Bukunya luar biasa, menurutku. Penokohannya begitu kuat. Buku yang berlatar tentang kisah tsunami di Aceh tahun 2004, benar2 top. Kisah tentang kehidupan Delisa, si anak korban tsunami di Lhok Nga, Aceh. Kisah yang mampu membuatku bukan hanya terharu, tapi seperti tersadarkan, akan banyaknya nikmat2 Allah. Yang terkadang, tanpa kita sadari terlupakan. Kenikmatan membaca buku ini kemudian aku tularkan pada Diva, sulungku. Dan, benar saja, Diva bukan hanya membacanya sekali, bahkan sampai mengulangnya tiga kali. Dan, sempat menjadikan buku ini sebagai buku favoritnya.

Selesai itu, lanjut hunting buku Tere Liye lainnya. “Kau, aku, dan sepucuk angpau merah”, menjadi favorit berikutnya. Berbeda dengan Delisa, yang begitu tinggi nilai2 humanisnya, buku ini lebih cenderung ke roman. Mengambil latar sungai Kapuas, di Kalimantan, Tere Liye benar2 menggambarkan seolah dia hidup bertahun2 di hulu Kapuas. Sangat detil, mengalir, dan tentunya sangat2 menarik. Sekalipun buku ini bergenre roman, tapi jauhlah dari kesan cengeng ataupun picisan. Walaupun tidak bisa juga dikatakan buku berat, karena dapat dinikmati dengan santai. Prinsipnya, Tere Liye memang jago sekali meramu cerita menjadi begitu menarik dan tidak picisan, tanpa merubahnya menjadi bacaan berat. Salut!!

Aku lanjut dengan kumpulan cerpen, “Berjuta rasanya.” Tetap bisa kunikmati, walaupun bisa kubilang, inilah buku Tere Liye, yang berada di urutan terbawah, versiku. Dia lebih asyik menyajikan cerita panjang, dibandingkan cerpen. Karena dalam penggambarannya, dia sangat detil. Baik latar belakang cerita, tokoh, maupun tempat. Bila di cerpen, hal2 ini menjadi kurang terekspos. Tetap sih, buku ini menunjukkan kualitasnya sebagai penulis hebat, walaupun paling ga favorit buatku.

“Bidadari-Bidadari Syurga,” buku berikutnya. Asyik sekali mebaca buku ini. Kembali nilai2 humanis yang tinggi, dengan penggambaran yang sangat detil. Seolah kita benar2 berada disana. Kisah tentang pengorbanan seorang kakak untuk adik2nya. Bukan kisah yang berat, tapi juga bukan cerita ringan. Mengambil tempat di sebuah desa, di pelosok Sumatra Utara. Kak Lais, sang tokoh utama, menjadi teladan, yang rasanya sangat sulit buat dijumpai saat ini.

Lanjut dengan “Ayahku (bukan) Pembohong,” kisah yang sangat istimewa. Walaupun dari awal sampai akhir cerita, tidak pernah jelas, dimana lokasi cerita ini. Tapi tetap Tere Liye dengan piawai menggambarkan tokoh dan latar belakang kisah dengan sangat detil. Untuk urusan ini, dia memang jago sekali. Terkadang cerita di buku ini, seolah gabungan dengan fantasi, walaupun juga menekankan logika. Buku yang istimewa, menurutku. Yang pasti, membaca buku ini, membuatku mendadak rindu dengan alm.Papa.

Kemudian “Burlian,” kisah tentang anak2 walau tidak kekanak-kanakan. Buku kedua dari 4 buku, tentang kisah Burlian dan saudara2nya. Asyik, lucu, kadang mengharukan juga. Kembali, Tere Liye dengan jagonya, menggambarkan dengan detil, semuanya. Lokasi juga tokoh2nya, ceritanya sangat mengalir. Hebat bener deh, wajar bila buku ini salah satu buku yang direkomen oleh komnas anak.

“Sunset Bersama Rosie,” lagi2 buku yang sangat menyentuh. Sebuah roman berlatar peristiwa bom Bali tahun 2005. Tapi lagi2 pula buku ini sangat jauh dari kesan cengeng dan picisan. Ceritanya sangat mengalir. Yang pasti, keindahan Gili Trawangan di Lombok, yang bisa digambarkan detil oleh Tere Liye, membuatnya masuk dalam agenda rencana liburku. Kemampuan Tere Liye menerjemahkan dalam kata, seolah dia sudah bertahun menetap di Gili Trawangan.

Kembali “Moga Bunda Disayang Allah,” buku tentang kisah anak2. Kisah anak2 yang memiliki keterbatasan, dan tentang ibu2 hebat yang memiliki anak2 ini. Kisah yang diilhami dari perjalanan hidup seorang Hellen Keller, aktivis kemanusiaan dan penulis besar, yang juga buta dan tuli. Kembali buku dengan nilai humanis yang tinggi. Kisah yang patut diteladani, wajar pula bila buku ini sampai cetak ulang 12 kali, ckckkkkckkk……salut buat Tere Liye yang meramunya.

Dan sekarang, aku baru sampai di bab ke-5 dari “Negeri para Bedebah.” setting cerita di Jakarta, membuat kisah ini terasa sangat dekat. Begitupun kasus krisis ekonomi dunia, terasa sangat dekat, karena baru saja berlangsung. Memang sih masih bab 5, belum bisa aku menggambarkan keseluruhan buku ini. Namun dari kalimat pertama yang aku baca, aku sudah bisa bilang bahwa lagi2 buku ini menarik!! Mudah2-an aku masih punya kontrol diri, untuk tidak memaksakan menamatkannya malam ini, heeheeeeee.

Masih ada beberapa buku Tere Liye lainnya yang belum aku punya. “Daun yang jatuh tak pernah membenci angin.” “Rembulan tenggelam di wajahmu.” “Pukat” , dan “Eliana, dari 4 seri saudara Burlian yang bukunya sudah aku baca. Kebetulan buku2 ini belum ketemu di Gramedia. Mungkin setelah Negeri para Bedebah, kuselesaikan, aku akan mulai hunting buku2 ini.

Bisa dibilang Tere Liye sekarang salah satu pengarang favoritku. Dengan cerita yang mengalir, penokohan yang kuat, penggambaran yang sangat detil, tanpa meninggalkan makna ikhlas dan syukur dalam setiap ceritanya. Begitu pula dengan genre yang sangat beragam, dari kisah2 anak sampai dengan roman. Semua disajikan lengkap dengan nilai2 humanis yang tinggi. Dan karena salah satu mimpiku adalah menulis buku, wajarlah bila sekarang Tere Liye menjadi panutanku. Kapan ya, bisa menulis seperti dia, kapan?? Harus bisa!!

One thought on “Cinta Tere Liye

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s