Ketika Cinta Diuji (Indah pada Waktunya 1)

20120915-132124.jpgKutatap dengan puas lembaran di ‘communication book’ milik Diva. Disana tertera nilai2 mid test-nya yang sedang berlangsung minggu ini. Math 9.7, Science 9.7, Civic 9.7, Bahasa 9.8, Social 8.4. “Nilai English dan yang lain belum masuk, Ma.” lapor Diva.
Bibirku menyunggingkan senyum penuh, tapi…..kenapa wajahnya agak muram???
“Kenapa, Div?? Kok seperti ga’ puas??” tanyaku.
“Habisnya, nilai Socialnya jelek.” terang Diva lagi.
Segera aku bisa menarik nafas lega, bukan perkara sulit untuk memberi pengertian pada Diva bahwa nilai2 nya sudah baik. Memang Diva ‘perfeksionis’, termasuk untuk nilai2 testnya. Padahal jujur saja, untuk urusan belajar, Diva benar2 telah mandiri. Semenjak di Y4, aku tidak pernah lagi mendampinginya belajar. Belajar benar2 atas keinginan pribadi, dan….untuk mendapat nilai baik, itu merupakan ambisinya sendiri.

Tidak terasa memang Diva sekarang sudah Y6, dan baru berulang tahun yang ke 11. Diva tumbuh menjadi gadis cilik yang cantik, ehhmmm…..kata orang2 sih mirip dengan mamanya. Yang pasti tinggi tubuhnya sudah hampir menyamaiku. Diva kini adalah anak yang cerdas, ehhmmm (lagi!!)…..mewarisi kecerdasan Mamanya, heeheeeee, dan….Papanya tentunya. Yang pasti Diva sangat menyukai membaca dan mulai menyenangi menulis. Lagi2 ini seperti Mamanya, heeeeeheee. Namun ada juga hal2 yang ternyata berbeda antara Diva denganku. Dia yang perfeksionis, bertolak belakang denganku yang cenderung cuek. Diva yang menggemari sejarah, sampai2 pernah bercita2 untuk menjadi historian, wahhh kalau ini berbeda benar sama Mamanya. Dan, Diva yang sangat menyukai melukis, dan segala remeh temeh pekerjaan tangan, sangat berbeda denganku. Terlepas dari berbagai persamaan dan perbedaan itu, Diva kini adalah sulung kami, yang memberi sinar kebahagiaan dan kebanggaan untuk kami, Mama Papanya. Gadis cilik yang cantik dan cerdas, yang menyenangi melukis, dan permainan pianonya mulai menghibur kami. Alhamdullilah, terima kasih ALLAH.

Syukur itu akan semakin besar, bila ingatanku melayang kembali ke 13 tahun silam. Tahun 1999, dimana aku mulai melangkahkan kaki, menapaki gerbang pernikahan. Pernikahan yang indah, yang dipenuhi impian. Aku beruntung menikah dengan seseorang yang aku cintai, setelah melewati proses penjajakan (bahasa halus dari pacaran, heeheeeee) sekitar 2 tahunan. Pria idaman, yang tidak hanya tampak ideal di mataku, namun juga oleh hampir semua yang mengenal kami. Pria yang memenuhi sebagian besar tipe pria ideal versi-ku. Dan yang pasti, sangat mencintaiku. Wajarlah kalau aku serasa berada di awang2 cinta. Namun apakah kemudian pernikahan kami sebahagia yang terlihat?? Tergantung indikatornya sih. Bila indikator kebahagiaan pernikahan salah satunya adalah memiliki keturunan, maka kami bisa dibilang kurang bahagia. Sekian bulan, hingga dua tahun perjalanan pernikahan kami, tanpa ada tanda2 akan segera memiliki bayi, sungguh, aku pribadi sangat merasa tidak nyaman.

Beragam test medis, kami lakoni. Jujur, walaupun merasa sangat terbebani, namun tekad untuk memberi kebahagiaan dalam pernikahan kami, membuat hal2 ini tetap dijalani. Rangkaian program, berbagai test, pemeriksaan ini itu. Bahkan inseminasi buatan kami jalani sampai 3 kali. Semua gagal!! Ada apa gerangan?? Padahal secara pribadi kami tidak ‘bermasalah’. Huffttt….kuakui perlahan kami mulai jenuh. Kehangatan pernikahan kami mulai terganggu. Target yang mulai menggerogoti pernikahan kami. Hingga, sampai pada puncaknya, uji kibrik atau entah uji apalagi, memberi hasil bahwa kami tidak mempunyai kecocokan. Bahwa kami tidak akan mungkin memiliki keturunan karena ketidakcocokan ini. Satu2nya peluang adalah dengan program bayi tabung. Itupun mengharuskan tanpa memakai darahku, karena ternyata darahku ‘menolak’. Apa program ini akan sukses?? Tidak pula ada jaminan, bila kami lakukan di Jakarta peluang keberhasilannya hanya 15 persen. Sedikit lebih besar bila kami lakukan di Singapore, namun tetap sangatlah kecil peluang suksesnya.

Kondisi ini membuat kami kemudian sampai pada titik pasrah. Cinta yang besar, membuat kami bertekad untuk tetap mempertahankan pernikahan indah kami. Dengan atau tanpa adanya anak2. Kami mantapkan diri untuk memasrahkan hanya pada Allah semata, karena tiada terjadi apapun tanpa kuasaNYA. Kami sibukkan diri kembali dengan rutinitas, pekerjaan, dan hobby. Kami jalani kehidupan masa2 pacaran kembali, menghangatkan pernikahan yang sempat tergerogoti oleh target dan beragam ‘program’. Walau doa dan tetes air mata tetap menghantar doa2ku di penghujung malam. Kerinduan kami akan kehadiran permata hati, tetap menemani keseharian kami.

Kekuasaan Allah, kebesaran Allah, takdir Allah, siapapun takkan bisa merubahnya. Justru disaat aku mendapat tawaran sebuah posisi, di bank swasta nasional besar. Posisi yang memang sudah sejak lama aku incar, disaat itu aku diberikan ‘pilihan’ oleh Allah. Kehadirannya, sesuatu yang begitu kami idamkan, sekian waktu. Sanggupkah aku kalahkan egoku untuk mukjizat indah dari Allah??

Memang kemudian aku memilihnya. Kehadirannya, buat kami justru jauh lebih indah dari apapun jua. Vonis bahwa kami tidak bisa memiliki keturunan, menjadikan kehadirannya jauh membuat kami lebih bersyukur. Kukorbankan ego pribadiku, tiada artinya dengan kehadiran bidadari kecil kami. Si cantik yang kemudian kami panggil dengan Diva. Tiada terasa, waktu kami bersamanya bagai berlari. Kini 11 tahun berlalu, Diva menjadi gadis cilik, kebanggaan kami. Syukur pada Allah, kerap kami lantunkan untuk karunia besarNYA. Diva telah menjadi penyinar kebahagiaan kami kini, dan InsyaAllah sampai nanti. Semoga Allah selalu memberkati hidupnya, dan indahnya tidak hanya untuk kami. Suatu saat kelak, doa dan harapan kami, indah Diva juga untuk semua yang berada di sekelilingnya.

Satu hal yang takkan kami pungkiri, bahwa tiada yang tidak akan terjadi tanpa kuasa Allah, dan semua memang akan terasa lebih indah pada waktunya.

(for My lovely Diva ‘Yovadila Yozie)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s