Naskah yang Hilang, Naskah yang Menang

Ini naskahku yang diikutkan dalam lomba rubrik Gado-gado majalah Femina, bertema ‘rendang’. Naskah ini sebenarnya sempat kuanggap hilang, karena berkali-kali dikirim ke email penyelenggara, tapi selalu ‘kelempar’ lagi. Hal itu kemudian membuatku pasrah. Apalagi waktu mengirimkan naskah sangat-sangat mepet dengan DL, hny 1-2 jam sebelum batas akhir yang ditentukan panitya.

Ketika beberapa waktu kemudian, mendapat kabar, naskah yang hilang itu menjadi juara ke-3, rasanya seperti tidak percaya. Memang sudah takdirnya, naskah yang dianggap hilang itu, kemudian menang. Semakin manis, saat menerima konfirmasi, transferan hadiahnya sudah masuk ke rekening, heeheeee.

RENDANG KETIGA
By: Yoza Yozie

Kuambil secuil bumbu rendang yang masih mendidih di wajan, kucicip, dan, hisssss “asinnya!” rutukku dalam hati. Lagi-lagi rendang ini gagal, setelah rendang sebelumnya, berasa tidak karuan. Cukup melelahkan, mengaduk sekilo daging dalam gelimang santan dan bumbu. Dan, semakin terasa lelah setelah hasil akhirnya jauh dari yang harapan. Kuhapus peluh didahi dan tengkukku. Sepertinya aku perlu duduk manis dulu, sambil berpikir langkah selanjutnya.

Masalahku tergolong rumit, buatku. Sebagai perempuan asli keturunan Minang, aku tidak bisa memasak rendang. Tapi jangan ditanya untuk urusan makannya, aku jagonya. Diantara sekian banyak rendang yang pernah lidahku jajal, memang rendang mama yang paling top. Sayangnya aku tidak mewarisi keahlian mama tersebut.

Masih terngiang kecerewetan mama bertahun lampau, tentang kewajiban seorang istri. Istri harus melayani suami, blaaa…blaaa…, termasuk urusan perutnya. Apalagi untuk gadis Minang, yang akan segera menikah, bisa memasak rendang suatu keharusan. Huffft, buatku saat itu mama berlebihan. Kejadian itu hanya beberapa minggu sebelum pernikahanku. Dan, itu merupakan ‘ceramah’ mama yang kesekian kali dengan topik yang sama. Gara-gara rasa malas lebih berkuasa, sampai hari pernikahanpun, tak satu jenis masakanpun yang aku kuasai, apalagi rendang.

Rendang, ibu dari masakan di Minang. Rasa rendang di daerah Minang, berbeda dengan rendang di daerah lain. Aku pernah mencicip rendang bikinan teman yang asli Betawi, rasanya cenderung manis. Pernah juga aku cicipi rendang bikinan teman, yang asli Jawa. Rendangnya masih basah dengan gelimang bumbu dan santan. Kalau di Minang rendang temanku ini, bernama kalio, atau baru calon rendang. Pernah juga ada temanku yang asli Batak, promosi rendangnya ‘eunak’. Pas dicoba, enak, tapi tetap yang ini namanya belum rendang, sedikitlah diatas kalio. Tentunya ada penyesuaian lidah, karena selera masing-masing suku itu unik. Sedangkan rendang yang beredar di resto Padang di Jakarta, sudah banyak modifikasi. Biar bisa diterima oleh banyak lidah dari aneka suku. Namun bagaimanapun, rendang memang sudah menasional. Dan sebagai orang ‘awak’, yang memiliki resep awal si rendang, bolehlah aku berbangga.

Walaupun aku penikmat sejati rendang, namun karena lama menetap di Jakarta, lidahku sudah menyesuaikan dengan aneka rasa rendang. Kalau lagi pengen, tinggal jalan ke resto Padang, atau DO ke resto langgananku. Bila benar-benar kangen, aku akan telpon mama, minta dikirimin rendang bikinannya. Dan hebatnya rendang, sekalipun dua-tiga hari perjalanan, Padang-Jakarta, rendang tetap awet. Mungkin karena rendangnya kering dan santannya sudah menjadi minyak. Hikss…, mendadak aku kangen mama, juga kangen rendangnya. Sayang mama sudah beberapa waktu ‘pergi’ untuk selamanya. Huaahaaaaa, nangis bombay juga deh.

Kenapa aku mendadak concern sama urusan rendang? Tidak lain, karena permintaan mertua, yang juga asli Minang. Untuk lebaran haji kali ini, mama mertua minta aku masak rendang. Catat! Rendang yang asli bikinanku, bukan pesan dari resto langganan, seperti tiap lebaran aku lakukan. Suami memintaku untuk mencoba dulu. “Kalau gagal, bolehlah dipesan lagi,” katanya membujukku. Demi menyenangkan suami, akhirnya aku cobalah ‘marandang’. Berbekal buku resep masakan peninggalan mama, jungkir baliklah aku di dapur. Dan hasilnya, dua kali nyoba, rendangku gatot alias gagal total.

Setelah merenung lama, akhirnya kuputuskan menghubungi Itje, satu-satunya adik perempuanku. Itje mewarisi keahlian memasak mama, karena dia tidak semalas aku belajar masak. Sejak mama tiada, bila kangen rendang mama, aku suka minta dibuatkan Itje. Tidak benar-benar mirip, tapi cukuplah buat obat kangen. Overall, enaklah rendang Itje, rendang rang Minang.

Waktuku sudah mendekati limit, besok rendangku sudah harus terhidang. Malam itu, aku lembur di dapur. Dengan buku resep mama, plus catatan kecil dari Itje, kumulai membuat rendang ketiga dalam dua hari ini. Kesungguhan berbuah manis juga. Tadaaaa…saat rendangku matang, suami adalah pencicip pertama, dan katanya, “enak!” Kutarik nafas lega, akhirnya aku siap dengan rendang buatanku sendiri. Walau bauku sudah tidak karuan, campuran keringat dan bau bumbu, namun hatiku puas. Dan lebih dari itu, perasaanku sekarang sempurna sebagai seorang perempuan Minang.

Karena Kamu Ada

Karena kamu,
Sepiku lenyap, sendiriku hilang
Kau temani aku juga hatiku
Tak kau biarkan sedih bersamaku
Selalu ada dirimu, sejak hari itu
Hari dimana kita bertemu, dan hati ini menyatu

Karena kamu,
Hari-hariku berwarna
Merah kuning hijau biru nila ungu
Bak pelangi, namun ada setiap hari
Sekalipun mendung terkadang menyapa
Tak kau biarkan berlama lama menggangguku

Karena kamu,
Aku mengerti cinta dan dicinta
Aku mengerti ketulusan kasih dan hangat kebersamaan
Aku mengerti harapan dan asa yang terus kita susun
Aku mengerti rasa dibutuhkan dan diharapkan

Karena kamu,
Dua permata cinta memberi warna indah dalam hidup kita
Walau perjuangan, sempat menemani
Namun semua kembali indah, dan semakin indah
Karena perjuangan itu berbayar kemenangan
Hadiah dari Illahi Rabbi

Semua karena kamu ada,
Kamu yang dipertemukan untukku
Kamu kekasih jiwa, belahan hati

Hari itu,
Ketika mata bertaut, hati menyatu
Ketika kamu ada
Aku tahu, aku sadar,
Dirimu untukku, dan diriku untukmu

Lalu,
Takkan ada lagi aku atau kamu
Karena itu sudah tak bermakna
Karena kamu ada
Aku dan kamu, menjelma menjadi kita
Karena kamu ada
Aku dan kamu, memiliki sebuah cinta

14 years in love

Curhat sang Penulis Cinta

OLYMPUS DIGITAL CAMERAHeeeheeee, sebenarnya tidak ada keterkaitan antara isi curhatanku ini dengan judul yang aku pakaikan. Semua hanya didasari kekaguman pada seorang penulis. Habiburahman el Shirazy, alias kang Abik. Hampir semua novelnya laris manis di pasaran. Hampir semua novelnya mengharubiru, dan bisa memainkan emosi pembacanya. Dan seingatku, semua novelnya menyelipkan kata ‘cinta’ di tiap judulnya.

Terinspirasi hal ini, membuatku ingin mengikuti jejak kang Abik. Walau buatku baru sebatas postingan di blog saja. Walau isinya hanya curhatan saja. Tapi aku berniat mengadopsi hal unik itu. Terasa nyaman saja di hati ketika ada satu kata, yang selalu dipakai di tiap judul postinganku. Setelah memikirkannya dengan sebaik2nya dalam tempo sesingkat2nya, heheeehee, akhirnya diputuskan memakai kata ‘cinta’. Karena cinta itu indah, karena cinta itu abadi, karena cinta itu universal. Yang jelas karena cinta terasa nyaman di hati, uhuuyyyyy!!! Demikian curhatanku seputar pemilihan judul, yang kadang tidak nyambung dengan isinya.

Akhir2 ini aku sedang dilanda rasa malas untuk memposting curhatanku. Kebalikan dari kemalasan itu, aku tengah rajin-rajinnya ikut beberapa lomba kepenulisan. Anehnya aku bukan mengincar hadiahnya. Tapi rasanya ada sebuah kepuasan, saat tulisanku bisa lolos sebagai pemenang. Lagipula saat ini, mengirim tulisan terasa begitu mudahnya. Bahkan hanya berselang beberapa menit sebelum deadlinepun, naskah tetap bisa ikut serta. Tinggal dikirim ke email penyelenggara, dalam hitungan detik naskah itupun bisa dibuka di seberang sana.

Ini pengalamanku belum lama, saat aku mendapat informasi tentang lomba menulis, untuk satu rubrik di majalah wanita terkemuka. Saat membaca info itu, belum terpikir akan menulis apa, karena topik yang diminta cenderung unik. Sampai paginya di hari H pun, aku belum mulai menuliskan satu katapun. Namun ada rasa yang kuat buat mengikuti lomba ini. Menjelang maghrib, mendadak ide2 itu seperti berloncatan dari batok kepalaku. Tak mau kehilangan momen, buru2 kutuangkan dalam bentuk tulisan. Dan tadaaaaa……sejam sebelum waktu DL, tulisan itu, aku selesaikan. Tapi, kendala kembali menghadang, saat aku ingin mengirim naskah tersebut, berkali2 naskahku kelempar lagi. Tidak mau menyerah, aku kirim sampai 6 kali. Lalu setelah itu aku cuma bisa pasrah sekaligus tidak berharap apa2. Lah kondisi naskahnya saja tidak ketauan rimbanya.

Tentu saja surprise, saat suatu pagi ditelpon oleh majalah tersebut. Kabar bahagia kalau naskah yang sudah diikhlaskan hilang itu, ternyata menjadi salah satu pemenang. Dan Alhamdulillah, walau tidak mengejar hadiahnya, aku toh menikmati hadiah kemenangan itu. Secara tidak lama berselang, hadiahnya sudah ditransfer ke rekeningku.

Itu curhatan sukanya, curhatan dukanya juga ada. Seperti hari ini, baru baca info, kalau naskah yang aku ikutkan lomba ‘menulis surat untuk Dahlan Iskan’, tidak lolos sebagai finalis. Dari lebih 300 naskah yang masuk, yang dipilih memang hanya 20 finalis. Dan aku termasuk yang tidak terpilih, hiksss…hikkssss…. Dari awal sebenarnya aku sudah merasa kalau naskahku kurang menggigit. Tapi berhubung aku ngefans sama si Bapak satu ini, ditambah aku baru kelar membaca buku Sepatu Dahlan, jadilah setengah memaksakan untuk merangkai kata, walau kurang greget jadinya. Kecewa, ya tetap kecewa dong, manusiawi sekali. Tapi tidak mau berlarut-larut. Masih banyak kesempatan dan event yang akan kumenangkan, hiiiihiiiiii optimis deyy.

Sebenarnya menang kalah, sudah sering aku alami. Hitung2 prosentase dari sepuluh naskah yang dikirim, separonya menang, dan separonya kalah. Dari lomba kelas ‘ecek2’ sampai lomba yang agak berkelas lah. Namun, tidak menyurutkan niatku. Seorang teman, penulis senior, pernah bilang, “kalah dalam satu lomba, bukan berarti tulisan kita tidak layak, atau tidak bagus. Tapi lebih karena tulisan kita tidak sesuai selera dewan jurinya.” Nah bagus juga kata2nya. Anggap saja semua tulisanku bagus dan menarik. Tapi tidak semua cocok dengan selera dewan jurinya, heheeheee.

Saat ini, jujur sebenarnya aku tengah penasaran dengan hasil audisi naskahku. Bulan lalu naskah2ku aku ikutkan audisi untuk buku antologi. Naskah2, yaaa….karena untuk satu antologi aku mengirim dua naskah, dengan harapan peluang lolosnya lebih besar. Sedangkan untuk satu antologi lainnya, hanya diperbolehkan mengirim satu naskah terbaik. Dan pengumuman kedua audisi ini, dijanjikan dalam satu dua hari ini. Bismillah, mudah2an lolos dua2nya. Menyusul dua audisi naskah sebelumnya, yang aku ikuti, dan lolos dua2nya. Walaupun belum menerbitkan buku solo, tapi senang juga naskah2ku bisa mejeng di buku antologi terbitan penerbit mayor, seperti Gramedia.

Akhir kata, demikianlah curhat sang penulis cinta, wwkwkwkkk. Curhat jatuh bangun, naik turun dalam mengejar mimpi. Yang pasti mimpi besar buat menjadi seorang writer kelas kakap. Punya buku2 solo, dan menjadi best seller. Dan tentunya bisa membuat tulisan2 yang menginspirasi banyak orang. Seperti banyak pengarang favoritku. Siapa?? Berhubung aku suka membaca, dan punya banyak koleksi buku, sehingga daftar pengarang favoritku pun buanyakkkk. InsyaAllah diperkenankanNYA, Aamiin YRA.

Pakaian Takwa, Kerudung Cinta

OLYMPUS DIGITAL CAMERAKutangkupkan kedua telapak tangan ini ke wajahku. Kuakhiri doa panjang di awal hari, di subuh yang terasa begitu bening. Di kebeningan pagi, di kedamaian subuh ini, kupuaskan dahagaku untuk memohon kepadaNya. Semakin terasa nikmatnya, karena subuh ini adalah subuh ke sepuluh di Ramadhan tahun ini. Perlahan tangan kananku menyusut kedua ujung mata. Ada titik-titik air disana, yang bukan hanya menggantung di kedua sudut mata, namun telah menganak sungai di kedua pipiku. Selalu, dan selalu saja, sulit buatku menahan perih dan pedih, bila ingatanku melayang kembali kepadanya. Apalagi bila Ramadhan datang, memory bersamanya akan kembali berputar kencang di otakku. Namun toh dalam kesedihan itu, tetap ada senyum tersungging. Betapa indah ‘kepergian’nya, seindah teguran yang dikirimkannya untukku.

Namanya Yoniko, adik laki-lakiku, yang paling dekat denganku. Karena dekatnya, sampai terkesan dia begitu manja padaku. Kadang-kadang Mama menggodaku, bilang bahwa anak sulungku sudah besar, sudah kuliah. Karena apapun yang dialaminya selalu dia ceritakan padaku. Kami kemudian seperti punya ritual pagi, yakni saling bertelepon sebelum memulai aktifitas hari. Intensitasnya semakin meningkat, setelah Mama ‘pergi’ dari kami, karena sakit yang diidap Mama. Jadwal teleponnya bertambah dimalam hari, disaat kami selesai dengan semua aktifitas hari itu. Kepergian Mamalah yang membuat kami semakin bertambah dekat. Dan rutinitas itu tidak berubah sama sekali, sekalipun dia bukan anak kuliahan lagi. Kesibukan di kantornya, sebagai karyawan baru, sama sekali tidak mengurangi intensitasnya menelponku. Memang kemudian, nada-nada gembira dan bahagia semakin terasa dalam percakapan kami. Dia memang sedang sangat bersemangat dengan masa depannya. Kelulusannya, dan kemudian tawaran bekerja yang berprospek baik, membuatnya terlihat makin optimis menyongsong hari. Minimal hal itu membantu dia, menekan perasaan kehilangan Mama.

10 Ramadhan, tahun 2008, selalu aku mengilasbalik kejadian itu. Bila kuhitung dengan Ramadhan tahun ini, berarti sudah 4 tahun berlalu. Dua kejadian yang terjadi pada hari itu, tidak akan pernah terlupakan. Masih segar diingatanku, betapa hari itu menjadi kehilangan terbesarku, setelah kepergian Mama. Adikku yang waktu itu begitu muda, begitu sehat, begitu optimis dengan masa depannya, mendadak dipanggil menghadapNya. Mendadak, sangat mendadak, tanpa pernah terlintas sedikitpun dalam lintasan pikirku. Betapa ‘umur’ kemudian memang menjadi hak prerogatif Allah. Tiada seorangpun yang dapat memprediksinya. Tanpa seorangpun bisa berencana atasnya. Tiada harus menunggu tua, tiada harus menunggu sakit, bila ‘panggilan’ itu telah datang, tidak ada seorangpun yang bisa menghalangnya.

Dalam sedu sedanku, dalam isak tangis piluku, dalam duka yang sangat dalam, aku seperti diingatkan akan sesuatu. Diingatkan hatiku untuk segera bertaubat kepadaNYA, kembali melangkahi jalan kebenaranNYA. Telah lama sesungguhnya niat itu terkatung-katung. Niat yang sebenarmya pernah terbersit dihati, bukan cuma sekali bahkan berkali-kali. Namun godaan syetan dan keangkuhan diri, membuat niat itu hanya tinggal niat. Buat kebanyakan orang mungkin tidaklah sulit untuk bermetamorfosis, berubah menuju kebaikan. Namun lagi-lagi, syetan memiliki loyalitas yang sangat tinggi buat menggoda keimanan seseorang. Dan kepergian adikku, seperti membangunkan kesadaranku kembali. “Apa yang terjadi bila aku yang mendadak dipanggilNYA?” tanya hati kecilku. Sementara aku sangat tidak siap untuk itu, aku belum punya bekal yang cukup. Bahkan penampilanku saja, sangat jauh dari kesan santun dan islami. Aku yang masih suka dengan rok miniku, masih sangat nyaman dengan celana jeansku, masih memakai kaus pas badanku, masih menjadikan gaun-gaun feminin yang seksi sebagai favoritku. Padahal aku sangat-sangat paham dengan aturan berpakaian secara islami. “Seorang muslimah yang tidak menutup auratnya dengan sempurna, jangankan syurga, wangi syurgapun takkan dapat dia menciumnya,” masih terngiang jelas nasehat seorang sahabat. Berkali-kali aku diingatkan orang tua, adekku, sahabatku, namun tetap saja hatiku belum tergerak.

Aku masih sangat bangga dengan kecantikan lahiriahku. Aku masih sangat takut pesonaku akan memudar setelah mengganti gaya busanaku. Aku masih cemas, rambut hitamku yang cantik ditutupi dengan selembar kain tipis bernama jilbab. Entahlah, sulit sekali hatiku bergerak ke arah yang lebih baik. Padahal, bila dilihat orang tuaku yang sangat taat dengan ajaran agama, harusnya aku tidak sulit melakukannya. Demikian pula dengan lingkungan pergaulanku, aku yang waktu itu kuliah di PTN di Bogor, saat itu begitu kental dengan nuansa islami. Belum lagi dukungan dari adikku, untuk mulai merubah gaya berpakaianku. Tapi seperti kusebut diatas tadi, syetan sangat loyal buat menggerogoti imanku. Bujukan Mama, aku lewatkan saja. Nasehat Papa, aku abaikan. Rayuan adikku, aku biarkan bagai angin lalu. Apalagi ajakan sahabat-sahabatku, tidak pernah kuanggap ada. “Sudah membatukah hatiku?” kadang tanya itu terlontar dihati. Karena aku sadar dengan semua aturannya, namun mengapa sulit sekali buat melaksanakannya. Apalagi setelah aku keluar dari dunia kampus, masuk ke lingkungan kerja di metropolitan. Semakin jauhlah aku dari kemungkinan itu. Jujur, aku tiada akan lupa dengan kewajiban seorang muslimah, untuk menjulurkan jilbabnya. “Ada apa denganku?”

Juga masih kuingat dua bulan sebelum ‘kepergian’ Mama, aku sempat bertelepon dengan beliau. Memang semenjak lulus SMU aku melanjutkan kuliah ke kota hujan, Bogor. dan setelah lulus kuliah, aku mulai bekerja di kota metropolitan Jakarta. Jauh…jauh…..dari rumah kami, dari keluarga, dari kota kami, yang ada diseberang pulau. Maka komunikasi paling intens dengan bertelepon. Dan, saat itu, dalam kondisi sakit, Mama masih sempat membujukku untuk segera menutup auratku. Menjalankan perintah Islam secara utuh, dan menjadi muslimah yang baik. Memang aku kemudian mengiyakan, sebatas untuk menyenangkan hati Mama. Sampai waktu Mama habispun, janji itu tak pernah aku tepati. Aku memang mulai membeli beberapa pakaian bertangan panjang, beberapa helai jilbab, namun tetap saja, barang-barang itu hanya menjadi penghias lemari pakaianku. Setelah Mama tidak ada, Papa kemudian mengambil alih membujukku. Papa selalu mengingatkan janjiku pada Mama. Tapi, lagi-lagi, hanya ‘iya’ di bibir saja, walau entah kapan terealisasi.

Sampai kemudian peristiwa itu terjadi, 10 Ramadhan 1428 H, tahun 2008, aku menerima kabar duka itu. Telepon dari Bandung yang mengabarkan bahwa adikku, adik kesayanganku telah berpulang. Betapa hancur hatiku, sesaat aku seperti merasa diriku sudah tidak menjejak lagi di bumi. Sesaat aku merasa seperti layang-layang putus. Tangisan pilu takkan bisa mengembalikannya, ratapan sedih takkan bisa membawanya kembali. Seperti ada kekuatan yang menggerakkan hatiku untuk meraih baju islami dan selembar jilbab. Dan, dalam perjalanan Jakarta-Bandung, tercetus niat itu, niatku untuk menggunakan pakaian takwa ini, tiada akan kulepas lagi. Kuteguhkan hatiku, inilah langkah awal pertaubatanku.

Adikku pergi dalam ketenangan, di bulan barokah ‘Ramadhan’, tanpa sakit, begitu tenang dan damai. Teman-teman dikostnyapun menceritakan hal itu. Betapa bersihnya wajah adikku beberapa minggu sebelum kepergiannya. Kesantunannya, kebaikan hatinya, ketulusannya dalam berbuat, membuat begitu banyak orang-orang yang sayang kepadanya. Aku yakin dia telah berada di tempat indah disana. Namun satu hal yang menggugah hatiku, betapa indahnya dia menegurku. Kepergiannya membuatku tersadarkan, membuatku diingatkan kembali akan janjiku pada Mama. Betapa sayangnya adikku kepadaku, betapa kepergiannya memberi hidayah kepadaku, untuk bertaubat pada Allah SWT.

Empat tahun berlalu, kesedihanku akan kepergiannya belum benar-benar usai. Dalam bening pagi, dalam sendunya Subuh, acap kutadahkan tangan memohon padaNYA. Memohon semua kebaikan untuk orang tuaku dan dia disana, adikku tercinta. Beberapa kali dia hadir dalam mimpiku. Dan semua mimpi itu kuanggap pertanda doa-doaku untuknya diijabah Allah. Yang pasti, sejak hari itu, empat tahun lalu, kuubah niatku. Kusingkirkan semua pakaian-pakaian kebanggaanku, kuhapuskan kesombongan akan kecantikan lahirku. Tiada arti semua di mata Allah, hanya kecantikan hatilah, yang bernilai tinggi di mataNYA. Lagipula, kepergiannya yang begitu mendadak, membuatku tersadar, akan persiapanku di hari nanti. “Apa yang telah aku siapkan buat bekalku?” tanya itu berkali- kali seperti menamparku. Perlahan, kuperbaiki diriku, seperti aku mulai memperbaiki busanaku. Sesungguhnya kini, betapa nyamannya pakaian takwa ini kukenakan. Tiada yang salah dengan kerudungku ini. Semua sempurna, membantu ikhtiarku untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. Membantuku untuk menjadi pribadi yang semakin bertakwa kepadaNYA. Aamiin YRA
(didedikasikan buat yang tersayang, adikku, alm.Yoniko Yaznil)

Istana Cinta

P1000249Lagi2 kenangan selama aku di tanah suci, seperti berlompatan dari otakku, malam ini. Banyak hal2 istimewa yang aku dapatkan selama dalam ‘spiritual journey’ tsb. Ada pengalaman mengharukan, ada kisah membahagiakan, bahkan ada pula ‘romantic story’ yang terjadi. Hebat dan luar biasa, karena setiap hari aku menemukan kisah baru selama di Makkah dan Medina. Tentunya juga seru dan sangat2 berkesan.

Salah satu cerita romantisku ini, sangat aku gemari. Kisah romantis yang sama sekali tiada terniat untuk membuatnya. Sesungguhnya takdir Allah-lah yang telah menuliskannya. Saat kami, aku dan suami, mengikuti city tour di kota Medina. Kota tempat hijrahnya Rasulullah, dari Makkah. Kota yang begitu dicintai Rasulullah. Kota yang kemudian menjadi tempat peristirahatan terakhir Beliau. Juga kota tempat Masjid Nabawi, masjid yang dicintai Rasulullah, tegak berdiri. Kota yang juga aku senangi, seperti aku juga sangat mengagumi keindahan Masjid Nabawi.

Salah satu agenda tournya, adalah mengunjungi Masjid Quba. Masjid yang pertama didirikan Rasulullah SAW, saat menginjakkan kaki di kota Medina. Masjid yang juga cantik, walaupun masih kalah cantik dengan Masjid Nabawi. Kami disarankan untuk shalat sunat 2 rakaat di masjid ini. “Adapun pahala dari shalat sunat 2 rakaat di masjid ini, adalah setara dengan satu kali ibadah umroh,” papar sang pendamping grup kami. Sementara bila kita melaksanakan shalat sunat 12 rakaat, dengan khusyu’ dan ikhlas, InsyaAllah akan dibangunkan istana buat kita di syurga.” tambah muthoyyif ini.

Berbekal keikhlasan dan keinginan meraih ridhonya, bergegas kami melaksanakan shalat sunat dhuha. Karena kebetulan pada saat itu, matahari mulai merangkak, pertanda waktu shalat sunat dhuha. Sebelum berpisah di luar area wudhu’, aku dan suami berjanji untuk langsung kembali ke bis kami, begitu selesai shalat. Daripada tunggu2an, lebih baik langsung balik ke bis, pikir kami.

Selesai shalat sunat dhuha 2 rakaat, dan diikuti doa2, aku bergegas kembali ke parkiran bis. Memang waktu yang diberi tidaklah panjang, mengingat padatnya agenda tour hari ini. Satu persatu anggota grup telah kembali ke tempat duduk masing2. Namun ada yang kurang, suamiku belum kembali. Walau awalnya tenang2 saja, perlahan perasaanku mulai khawatir juga. “Kenapa Abang lama sekali shalatnya?” bisikku cemas. Sang muthoyyif juga mulai khawatir, dan menanyakan kepadaku. Manalah aku tahu, aku sendiripun juga cemas karena suamiku belum nampak jua sosoknya. Dan, entah kenapa, disaat butuh, hp-ku justru ketinggalan di kamar hotel.

Muthoyyif kami kemudian berinisiatif menyusul Abang kembali ke masjid. Tidak lama kulihat sosoknya berjalan beriringan dengan sang muthoyyif. Perasaan cemas dan khawati yang sedari tadi menggayutiku mulai terusir. Setelah meminta maaf atas keterlambatannya, ke semua anggota rombongan, Abang segera menempati kursinya di sebelahku. Tanya beruntun milikku, langsung menyambutnya. Wajarlah, wajar aku sangat penasaran. Tapi Abang senyum2 dikulum saja. Dengan wajah polosnya, memandangku hangat. Ahhh….benar2 membuat penasaran.

Akhirnya Abang bosan juga, mendengar rengekan pertanyaanku. “Aku tadi shalat sunatnya 12 rakaat, makanya agak lama,” jelas Abang dengan tenang. Wow….walaupun sudah aku duga, tapi aku kaget juga. Lalu pertanyaan lain justru mendesak buat mendapat jawabnya segera. Tanpa jeda, kuberondong lagi Abang dengan tanya berikutnya. “Berarti, Abang berharap dibuatkan istana di syurga ya? Terus kalau punya istana di syurga, Abang mau tinggal dengan siapa?” selidikku penasaran.

Jujur, aku telah menduga jawabannya. Namun saat Abang menjawab tanyaku itu, tetap ada rasa haru dan bahagia melingkupi hatiku. “Tentu saja aku ingin tinggal bersama istriku. Bersama Yoza, menghuni istana cinta di syurga,” jawab Abang mantap. Bahagiakah aku?? Sudah tentu!! Jawaban indah yang mungkin akan menjadi harapan setiap istri yang mencintai suaminya. Apalagi aku hapal karakter suamiku. Bertahun2 mengenalnya, aku tahu dia bukan tipe pria romantis. Dia bukan tipe yang suka mengumbar kata2 manis. Berarti jawaban itu, tulus dari hatinya. Jadi wajarlah bila aku sangat bahagia saat itu, setimpallah buat mengganti rasa cemasku sebelumnya.

Untuk membalas niat sucinya itu, kuraih lengannya. Kusandarkan kepalaku di lengan Abang. Dengan sudut mata, kutangkap senyum Abang menghias tipis di bibirnya. Lalu, sebuah kecupan ringan singgah di dahiku. Alhamdulillah, indah sekali nikmat Allah untukku, saat itu. Adakah cerita yang lebih indah, yang bisa mengalahkan kisah cinta suami istri?? Aku pikir tidak ada!!

Memang kisah romantis ini sudah berbilang tahun berlalu. Namun hingga hari ini, masih bisa kurasakan indah dan manisnya. Terkadang, besar juga hasratku untuk mengulang kembali kisah itu. Namun…..sepertinya tidak mungkin juga ya. Yang jelas, tetap terniat di hati kami buat memiliki ribuan kisah indah dan romantis. Walaupun kemudian hanya kuasa Allah-lah yang akan mengeksekusi rencana kami ini. Perkenankan Ya Rabb, pinta tulus kami, Aamiin YRA.
(for my lovely, ‘Yozie’)

Pelukan Cinta

DSC00803Entah kenapa malam ini mendadak aku teringat dengan ‘pelukan’ itu. Bukan pelukan dari suami, atau anak2. Bukan pula pelukan dari saudara, atau seseorang yang kukenal. Terasa istimewa, karena pelukan itu diberikan oleh seseorang yang sama sekali tak kukenal. Tapi anehnya, aku bisa merasakan keikhlasan cinta dalam pelukan itu. Hebat ya, bahasa cinta memang bisa diterjemahkan dalam banyak cara, termasuk pelukan. Lebih hebatnya lagi, komunikasi verbal kami justru sama sekali tidak bertemu.

Pelukan yang kubahas diatas, diberikan oleh seorang nenek. Tepatnya nenek-nenek Arab. Mungkin karena selintas, tadi di salah satu tv lokal, aku melihat liputan tentang pelaksanaan ibadah haji. Otomatis ingatanku, langsung tersambung ke memory perjalanan religi kami, ke ‘holy land’. Dan cerita tentang pelukan itu, kemudian memang menjadi salah satu kenangan favoritku.

Siang itu aku bergegas, menyusuri jalan dari hotel tempat aku dan suami menginap, ke Masjid Nabawi. Tidak ingin kehilangan waktu, buat melakukan ibadah di masjid indah itu. Di tempat yang sudah kami sepakati, aku dan suami berpisah jalan. Ini dikarenakan pintu masuk buat laki2 dan perempuan memang terpisah. Setelah melewati pemeriksaan ketat ‘askar’ di pintu masuk, kulangkahkan kaki ke dalam. Kesejukan segera menyapa, bukan hanya hati dan jiwa yang terasa sejuk, begitu masuk ke Masjid Nabawi, mata-pun begitu dimanjakan dengan keindahannya. Buat aku pribadi, Masjid Nabawi di Medina, adalah salah satu masjid terindah.

Kucari posisi yang lebih kedepan, mencoba menemukan tempat yang ‘enak’. Biar lebih khusuk shalatnya, biar lebih panjang doa-doanya. Walaupun sebenarnya kekhusuk-an itu ada di hati. Setelah mendapatkan tempat yang pas, segera kugelar sajadah, kulanjutkan dengan shalat sunat, sebelum shalat dhuhur dimulai. Dzikir dan doa-doa panjang, menyambung shalat sunatku. Beberapa kali dalam doaku, kupintakan Allah beri aku pertanda, tentang Mama. Jujur, berada di tanah suci ini, membuat kerinduanku pada almh. Mama semakin dalam. Doa khusus buatnya selalu kukirimkan, namun ego-ku,membuatku ingin mendapatkan pertanda itu.

Kekhusukan doaku sedikit terpotong, saat seseorang berdiri disampingku. Kebetulan memang sisi sebelah kananku sebelumnya masih kosong. Bukan kehadirannya yang membuatku terusik, namun aromanya yang sangat mengusik indra penciumanku. Kusegerakan menutup doa2ku, dan kuamati sosok disebelah kananku itu. Seseorang nenek, berwajah Arab, namun bertubuh kecil, berpakaian serba putih. Nenek itu masih melaksanakan shalat sunat. Sempat terbetik keinginan dihatiku, untuk mencari tempat yang lain. Jujur, bila mengikuti egoku, aroma kurang sedap yang menguar dari tubuh si-nenek itu, sangat menggangguku. Syukurnya, kesadaranku cepat pulih, kuyakin ini ujian dariNYA. Keinginan buat berpindah tempatpun segera kutepis.

Merasa aku perhatikan, begitu selesai shalat, si nenek itupun balas menatapku. Wajah teduhnya menyapaku hangat. Saat kubalas dengan senyumanku yang terkenal ‘maut’ (heeheeheee), nenek ini semakin berani buat berakrab-akrab. Dia mulai mengajakku bicara, dalam bahasa yang sama sekali tak kumengerti. Walau akhirnya memakai bahasa tarzan, namun cukuplah buat merintang waktu sebelum adzan Dhuhur berkumandang.

Hingga, tak berapa lama, mata si nenek singgah di sajadah yang kupakai. Tangannya mengusa-usap sajadahku. Lalu mulai bicara lagi, dalam bahasa ‘planet’ itu. Kutarik sajadahku, kusodorkan kepadanya. Disambutnya dengan antusias, dikaguminya bordiran Padang yang menghiasi sekeliling sajadah. Kekagumannya terhenti oleh kumandang adzan Dhuhur. Awalnya kuberharap sajadahku segera dikembalikan, karena shalat segera akan dimulai. Namun entah kenapa, sajadahku tetap berada di pangkuannya. Berpikirku, mungkin nenek ini menginginkan sajadah itu. Segera dalam bahasa tarzan, kuberikan sajadah itu kepadanya. Toh aku masih punya cadangan, dua sajadah lagi di koperku, pikirku.

Luar biasa, sambutannya. Gembira dan bahagia sekali si nenek ini, begitu tahu, aku berikan sajadah itu kepadanya. Diciuminya berulang kali sajadah itu. Kemudian diraihnya tubuhku, dilumatnya dalam pelukannya. Erat dan hangat pelukan itu. Masih belum cukup, wajahku dihujaninya denga ciuman bertubi-tubi. Lalu kembali aku dipeluknya. Setitik air mata bahagia menggayut di kedua ujung mataku. Alangkah mudahnya membuat hati ini bahagia. Sekejap yang lalu aku masih terganggu dengan aroma tidak sedap itu. Lalu sekejap kemudian, aku sudah lupa dengan hal itu, justru aku sedang menangis bahagia.

Akhirnya memang adegan ala sinetron itu harus di’cut’ dulu. Waktunya buat shalat Dhuhur berjamaah. Si nenek ini langsung menggelar sajadahku, untuk tempat shalatnya. Aku tersenyum kecil, biarlah shalat kali ini aku tanpa sajadah. Karpet tebal yang membentang sudah cukup buat alas shalatku. Shalat Duhur, dan beragam ritual tambahan sudah aku selesaikan. Saat aku melongok ke sisi kananku, nenek tadi sudah menghilang. Padahal belum lama aku masih merasa dia disebelahku. Yang lebih anehnya lagi, baru kusadari, saat nenek itu memelukku, tak tersisa sama sekali aroma tidak enak, yang sebelumnya mengganggu indra penciumanku. Aneh, bayangkan saja aku berada di pelukannya, pipi dan dahiku bertubi-tubi diciuminya, namun tak setitikpun tersisa bau itu.

Malaikatkah nenek yang tadi berada disebelahku?? Apakah ini pertanda, yang beberapa kali kusebut dalam doa2ku?? Entahlah, tiada jawab pasti yang kutemukan. Yang jelas, aku sempat diuji dengan bau tidak sedap itu. Seandainya saat itu aku memutuskan pindah tempat, mungkin akan lain endingnya. Dan apa maksudnya, dengan sajadah yang diminta nenek itu?? Entahlah pula, kembali aku tak punya jawabnya. Hanya satu yang kurasakan saat itu. Damai, kedamaian yang begitu dalam. Juga kepuasan, karena bisa membuat bahagia seorang nenek. Walau hanya dengan sebuah sajadah. Terlepas dari, apakah ini ujian Allah buatku. Kedamaian dan kepuasan itu sudah cukup untukku.

Sekembalinya ke tanah air, kisah pelukan nenek itu masih tetap menjadi favoritku. Bahkan setelah lama berjalan waktu, kisah itu tetap kukenang dengan manis. Salah seorang adikku, sempat mengatakan,” mungkin itu malaikat yang diutus Allah.” Malaikat yang disuruh menyampaikan pelukan rindu Mama untuk Uni, ” katanya. Benarkah?? entahlah juga. Tentu, aku berharap hal itu benar adanya. Namun, seandainyapun hal itu tidak benar, juga tidak mengapa. Paling tidak aku punya sebuah kisah yang bisa aku ceritakan kembali. Alhamdulillah!!!

Dua Nama, Satu Cinta

OLYMPUS DIGITAL CAMERAYoza namaku, Yozie nama suamiku. Bukan kami sengaja menyatukan dua nama ini dalam satu cinta. Benar2 takdir Allah, aku berjodoh dengan seseorang yang bernama nyaris sama denganku. Orang tua kami-pun tidak saling mengenal sebelumnya. Jadi jauhlah dari kemungkinan perjodohan dari kecil. Sehingga kami merasa bahwa ini benar2 perjodohan istimewa, spesial, se-spesial kemiripan nama kami.

Awal mengenalnya, tentu saja terasa aneh, agak ajaib, dan lucu aja. Seolah dipertemukan dengan kembaran yang terpisah sedari kecil. Lebih ajaib lagi, panggilan kami sama, ‘Yoz’. Sehingga diawal masa2 pacaran, aku dan dia, sering kagok, sering salah paham, sering kebingungan sendiri. Apalagi kami masing2 memanggil diri sendiri, dengan panggilan itu. Semakin seringlah bingung, melanda waktu kencan kami, heeheeee. Sehingga akhirnya kami membuat kesepakatan, salah satu dari kami harus mengalah, mengganti panggilannya. Aku yang punya panggilan lain, spesial dari kakak n adekku, diminta untuk mengalah. Jujur saja, aku tetap protes diawal kesepakatan. 24 tahun memakai ‘Yoz’ ke diri sendiri, mendadak disuruh mengalah, ya ga mau donk. Namun dengan beragam rayuan mautnya, akhirnya aku luluh juga. Walaupun tentu saja, panggilan baru itu, resmi kugunakan setelah berstatus istrinya.

Bernama nyaris mirip, ada keuntungannya juga. Orang2 sekitar dengan sangat gampang mengingat nama kami. Sehingga tidak aneh bila teman2 suami, yang ga dekat sekalipun, dengan gampang mengenal namaku. Yang lucunya, setiap kami mengenalkan diri selalu, ada pertamyaan, yang lebih kurang sama. “kok namanya bisa mirip ya??”
Sehingga terkadang masalah nama yang mirip ini, bisa menjadi pembuka obrolan, dengan orang2 baru.

Dari nama yang nyaris mirip ini, bisa ditebak donk, nama anak2 kami. Yup, kedua putri kami, kami pilihkan nama yang berawalan “Yo”, paling ga sebagai pengukuhan, bahwa kedua gadis cilik ini adalah anak2 dari Yoza dan Yozie. Dan sebagai bukti rasa sayang dan perhargaan kepadanya, sebagai istri, aku memakai nama suami di belakang namaku. Tadinya memang agak terasa janggal, tapi setelah sekian tahun, nama itu kemudian seperti padanan tak terpisahkan, ‘Yoza Yozie’. Akhirnya memang, sepertinya nama itu yang memang dikodratkan untuk menjadi padanan namaku. Terlepas dari urusan nama ini. Cinta yang terbina, tetaplah yang utama. Nama kemudian memang hanya menjadi penambah daya tarik relasi kami.

(for my Yozie)

Cinta Tere Liye

OLYMPUS DIGITAL CAMERAUppsss….jangan salah dulu dengan “cinta tere liye” diatas tadi. Maksudnya aku sekarang sedang cinta banget dengan buku2 nya Tere Liye. Hampir semua buku yang ditulisnya sudah aku baca. Dan, harus aku akui, si ‘bapak’ yang satu ini memang jago sekali. Tulisannya mengalir, topiknya selalu yang pernah jadi topik hangat, penjiwaan tokohnya kuat, setting ceritanya-pun detil sekali, seolah2 dia pernah bertahun menetap disana. Bukan hanya cinta sama buku2nya, akupun pengen sekali menulis buku seperti dia. Bisakah?? Mudah2an bukan sekadar impian.

Mengenalnya bermula dari ‘Hafalan Shalat Delisa’, buku karangan Tere Liye yang sempat difilmkan. Jujur, gara2 bukunya, aku sempatkan pula menonton filmnya. Walaupun ga munafik, aku tidak begitu suka film2 nasional. Memang sih, jauh lah, penggambaran di buku dan di film. Sepertinya ekspektasiku terlalu tinggi saat awal menonton filmnya. Agak kecewa juga sih, tapi ok-lah, buat menjawab rasa penasaranku.

Bukunya luar biasa, menurutku. Penokohannya begitu kuat. Buku yang berlatar tentang kisah tsunami di Aceh tahun 2004, benar2 top. Kisah tentang kehidupan Delisa, si anak korban tsunami di Lhok Nga, Aceh. Kisah yang mampu membuatku bukan hanya terharu, tapi seperti tersadarkan, akan banyaknya nikmat2 Allah. Yang terkadang, tanpa kita sadari terlupakan. Kenikmatan membaca buku ini kemudian aku tularkan pada Diva, sulungku. Dan, benar saja, Diva bukan hanya membacanya sekali, bahkan sampai mengulangnya tiga kali. Dan, sempat menjadikan buku ini sebagai buku favoritnya.

Selesai itu, lanjut hunting buku Tere Liye lainnya. “Kau, aku, dan sepucuk angpau merah”, menjadi favorit berikutnya. Berbeda dengan Delisa, yang begitu tinggi nilai2 humanisnya, buku ini lebih cenderung ke roman. Mengambil latar sungai Kapuas, di Kalimantan, Tere Liye benar2 menggambarkan seolah dia hidup bertahun2 di hulu Kapuas. Sangat detil, mengalir, dan tentunya sangat2 menarik. Sekalipun buku ini bergenre roman, tapi jauhlah dari kesan cengeng ataupun picisan. Walaupun tidak bisa juga dikatakan buku berat, karena dapat dinikmati dengan santai. Prinsipnya, Tere Liye memang jago sekali meramu cerita menjadi begitu menarik dan tidak picisan, tanpa merubahnya menjadi bacaan berat. Salut!!

Aku lanjut dengan kumpulan cerpen, “Berjuta rasanya.” Tetap bisa kunikmati, walaupun bisa kubilang, inilah buku Tere Liye, yang berada di urutan terbawah, versiku. Dia lebih asyik menyajikan cerita panjang, dibandingkan cerpen. Karena dalam penggambarannya, dia sangat detil. Baik latar belakang cerita, tokoh, maupun tempat. Bila di cerpen, hal2 ini menjadi kurang terekspos. Tetap sih, buku ini menunjukkan kualitasnya sebagai penulis hebat, walaupun paling ga favorit buatku.

“Bidadari-Bidadari Syurga,” buku berikutnya. Asyik sekali mebaca buku ini. Kembali nilai2 humanis yang tinggi, dengan penggambaran yang sangat detil. Seolah kita benar2 berada disana. Kisah tentang pengorbanan seorang kakak untuk adik2nya. Bukan kisah yang berat, tapi juga bukan cerita ringan. Mengambil tempat di sebuah desa, di pelosok Sumatra Utara. Kak Lais, sang tokoh utama, menjadi teladan, yang rasanya sangat sulit buat dijumpai saat ini.

Lanjut dengan “Ayahku (bukan) Pembohong,” kisah yang sangat istimewa. Walaupun dari awal sampai akhir cerita, tidak pernah jelas, dimana lokasi cerita ini. Tapi tetap Tere Liye dengan piawai menggambarkan tokoh dan latar belakang kisah dengan sangat detil. Untuk urusan ini, dia memang jago sekali. Terkadang cerita di buku ini, seolah gabungan dengan fantasi, walaupun juga menekankan logika. Buku yang istimewa, menurutku. Yang pasti, membaca buku ini, membuatku mendadak rindu dengan alm.Papa.

Kemudian “Burlian,” kisah tentang anak2 walau tidak kekanak-kanakan. Buku kedua dari 4 buku, tentang kisah Burlian dan saudara2nya. Asyik, lucu, kadang mengharukan juga. Kembali, Tere Liye dengan jagonya, menggambarkan dengan detil, semuanya. Lokasi juga tokoh2nya, ceritanya sangat mengalir. Hebat bener deh, wajar bila buku ini salah satu buku yang direkomen oleh komnas anak.

“Sunset Bersama Rosie,” lagi2 buku yang sangat menyentuh. Sebuah roman berlatar peristiwa bom Bali tahun 2005. Tapi lagi2 pula buku ini sangat jauh dari kesan cengeng dan picisan. Ceritanya sangat mengalir. Yang pasti, keindahan Gili Trawangan di Lombok, yang bisa digambarkan detil oleh Tere Liye, membuatnya masuk dalam agenda rencana liburku. Kemampuan Tere Liye menerjemahkan dalam kata, seolah dia sudah bertahun menetap di Gili Trawangan.

Kembali “Moga Bunda Disayang Allah,” buku tentang kisah anak2. Kisah anak2 yang memiliki keterbatasan, dan tentang ibu2 hebat yang memiliki anak2 ini. Kisah yang diilhami dari perjalanan hidup seorang Hellen Keller, aktivis kemanusiaan dan penulis besar, yang juga buta dan tuli. Kembali buku dengan nilai humanis yang tinggi. Kisah yang patut diteladani, wajar pula bila buku ini sampai cetak ulang 12 kali, ckckkkkckkk……salut buat Tere Liye yang meramunya.

Dan sekarang, aku baru sampai di bab ke-5 dari “Negeri para Bedebah.” setting cerita di Jakarta, membuat kisah ini terasa sangat dekat. Begitupun kasus krisis ekonomi dunia, terasa sangat dekat, karena baru saja berlangsung. Memang sih masih bab 5, belum bisa aku menggambarkan keseluruhan buku ini. Namun dari kalimat pertama yang aku baca, aku sudah bisa bilang bahwa lagi2 buku ini menarik!! Mudah2-an aku masih punya kontrol diri, untuk tidak memaksakan menamatkannya malam ini, heeheeeeee.

Masih ada beberapa buku Tere Liye lainnya yang belum aku punya. “Daun yang jatuh tak pernah membenci angin.” “Rembulan tenggelam di wajahmu.” “Pukat” , dan “Eliana, dari 4 seri saudara Burlian yang bukunya sudah aku baca. Kebetulan buku2 ini belum ketemu di Gramedia. Mungkin setelah Negeri para Bedebah, kuselesaikan, aku akan mulai hunting buku2 ini.

Bisa dibilang Tere Liye sekarang salah satu pengarang favoritku. Dengan cerita yang mengalir, penokohan yang kuat, penggambaran yang sangat detil, tanpa meninggalkan makna ikhlas dan syukur dalam setiap ceritanya. Begitu pula dengan genre yang sangat beragam, dari kisah2 anak sampai dengan roman. Semua disajikan lengkap dengan nilai2 humanis yang tinggi. Dan karena salah satu mimpiku adalah menulis buku, wajarlah bila sekarang Tere Liye menjadi panutanku. Kapan ya, bisa menulis seperti dia, kapan?? Harus bisa!!

Kekuatan Cinta

Beberapa hari lalu seorang teman memposting berita tentang Abi, di BB group. Abi, seorang anak berusia 10 tahun, yang mengalami koma lebih OLYMPUS DIGITAL CAMERAdari sebulan. Koma yang dialaminya setelah operasi, akibat brain cancer yang dideritanya. Memang tujuan dari postingan ini, untuk mengetuk hati sesama, buat berbagi. Membantu orang tua Abi yang mulai kesulitan dengan biaya pengobatan Abi. Kebetulan berita ‘Abi’ ini juga dimuat di harian Kompas, yang berskala nasional. Mudah2an semakin banyak orang yang terketuk hatinya buat berbagi dengan orang tua Abi.

Sebagai seorang ibu, betapa, berita seperti ini justru membuatku semakin bersyukur. Bukan, bukan bermaksud mengecilkan ujian yang tengah dihadapi Abi dan orang tuanya. Tapi kusyukuri limpahan nikmat dan berkah Illahi yang terlimpah pada kami. Betapa setiap hari bisa kami reguk nikmat sehatNYA. Anak2 yang sehat, cerdas, dan selalu ceria. Alhamdulillah ya Rabb. Limpahkan pula nikmat sehatMU buat Abi, izinkan pula dia bisa menjalani keceriaan seperti sebelum sakit itu menderanya. Dan limpahkan sabar juga ketabahan buat orang tuanya.

Sangat bisa kupahami, bagaimana perasaan kedua orang tua Abi. Bagaimanapun, aku juga adalah orang tua, seorang ibu. Seseorang yang rela menukar kekecewaan, rasa sedih, dan rasa sakit, dengan anak2 tercinta. Kasih sayang ibu, yang begitu dalam dan besar, buat anak2 tercinta. Ini pulalah yang aku tangkap dari cerita Abi. Betapa, sang ibu, dalam setiap helaan nafasnya masih menggantung asa, akan kesembuhan Abi. InsyaAllah, kekuatan yang bernama cinta ini, akan dijawabNYA.

Dalam keseharianpun, ber-kali2 aku menyaksikan kekuatan bernama cinta, cinta sang ibu. Kebetulan anak2 kami bersekolah di sekolah yang mempunyai kelas inklusi. Yakni kelas yang diperuntukkan untuk anak2 berkebutuhan khusus. Anak2 yang lebih sering hidup di ‘dunia’ nya sendiri. Sungguh, mereka adalah pribadi2 istimewa, dan ibu2 dari anak2 ini adalah ibu2 yang istimewa. Yang memiliki kekuatan cinta, yang teramat besar, luar biasa!! Betapa, kemudian aku merasa syukur yang teramat besar, dengan melihat situasi ini. Betapa, terkadang aku terasa jauh lebih kecil dari ibu2 istimewa ini. Dan, memang kekuatan cinta milik merekalah yang kemudian membuat anak2 istimewa ini bisa hidup, belajar, dan bermain, berdampingan dengan anak2 normal lainnya.

Dalam lingkup keluargaku sendiri, aku juga bisa merasakan kekuatan cinta milik Mama. Mama yang cantik, yang kuat dan tegas, yang begitu kami idolakan. Mama yang berusaha tetap membagi cintanya dengan adil. Walaupun, terkadang kami rasakan ada perlakuan khusus Mama buat salah satu adikku, yang sedari lahir memang membawa penyakit bawaan. Kekuatan cinta Mama, membuat adikku bisa hidup seolah tanpa penyakitnya. Bisa menikmati masa kanak2, remaja hingga dewasanya dengan baik dan nyaris normal. Bisa meraih prestasi2 yang dibanggakan Mama. Dulu, saat aku masih kanak2 tak pernah kusadari hal ini. Betapa kekuatan cinta Mamalah yang tetap membuat adikku bersemangat. Luar biasa, kekuatan cinta itu. Setelah dewasa, baru kusadari, bahwa terkadang Mama juga mengalami kelelahan. Namun, kekuatan cinta Mama tiada pernah padam.

Pada akhirnya, harus kuangkat jempol untuk ibu2 istimewa ini. Yang menjalani ujian dari Allah dengan sabar, dan tabah. Yang tetap bisa tersenyum, tertawa, walau dalam hatinya merintih. Melihat sang buah hati, yang senantiasa harus selalu ditopang. Banyak hal yang bisa kupelajari dari mereka. Betapa kekuatan cintalah yang telah menopang, menyokong, dan mendukung anak2nya. Semoga mereka selalu dilimpahi berkahNYA, agar senantiasa memiliki kekuatan cinta buat anak2nya. Aamiin Ya Rabb, limpahkan kasih sayangMu buat pribadi2 istimewa ini, buat ibu2 hebat ini.

(buat almh. Mama tercinta, kekuatan cintamu begitu menginspirasi kami, love you, Ma)

Katakan Cinta!!!

OLYMPUS DIGITAL CAMERA“Seorang suami yang baik, adalah yang bisa menghibur istrinya, sehingga menambah rasa cinta diantara keduanya. Istri yang baikpun, senantiasa akan mengungkapkan rasa cintanya dalam kata2. Dalam Islam, bila kita mencintai pasangan kita, maka dianjurkan untuk mengungkapkan dalam kata2. Sebagaimana Rasullullah SAW pernah menganjurkan kepada seorang sahabat untuk mengungkapkan cinta kepada pasangan. Tentunya dalam hal ini pasangan yang sudah halal untuk kita.”
Lebih kurang seperti itu isi BBM yang aku terima dari seorang teman tadi pagi. Seperti biasa, begitu pagi blackberry-ku dinyalakan, ping….ping…beruntun. Beragam pesan pribadi ataupun komen2 di grup. Biasa aku biarkan dulu, setelah ada jeda ditengah kesibukan pagi, barulah aku buka satu persatu. Toh, bila memang benar2 penting, dan butuh respon cepat, pastilah akan menghubungiku by phone, bukan via BBM. Dan diantara sekian pesan yang masuk, kutipan diatas tadi, yang dikirim oleh seorang teman baru, cukup menginspirasiku.

Harus diakui, terkadang kesibukan dan rutinitas, membuat kita terlupa untuk mengucap kata2 cinta. Apalagi pada pasangan, suami/istri, yang sudah bertahun bahkan berbelas tahun bersama. Kadang2 terasa aneh mengucapkan ‘i love you’ pada suami/istri sendiri. Sementara saat masih pacaran, saat masih belum halal, kata2 tsb bagaikan nyanyian yang kerap dilantunkan. Tidak mengenal waktu, tiap haripun diulang, dan rasanya indah sekali dan, tidak terasa membosankan. Kenapa sekarang, kata2 itu sulit terucap. Kenapa kemudian terasa aneh bila kata itu terucap dari suami/istri sendiri. Fonemena yang cukup ganjil ya.

Sudah selayaknya, kita lestarikan mengungkapkan cinta dalam kata2. Bukankah tauladan kita Rasulullah juga melakukan hal yang sama. Ada pasangan yang berpendapat, yang penting perbuatan, bukti nyata dari cinta itu. Tentu tanpa mengecilkan arti perbuatan dan makna cinta itu sendiri, mengucapkan kata cinta tidak salah bila dijadikan rutinitas. Bukankah terasa indah, saat lelah menyiapkan hidangan untuk seluruh keluarga, seorang istri kemudian mendapat kecupan dan kata2 cinta dari sang suami. Niscaya semua lelah itu akan langsung terbayar lunas. Demikian pula, saat sang suami lelah sepulang kerja. Setelah berkutat dengan pekerjaan, dan bertarung dengan kemacetan jalanan. Sesampai di rumah, disambut kecupan dan kata2 cinta dari istri tercinta, InsyaAllah lelah itu akan langsung menguap.

Alhamdulillah, budaya mengucapkan kata2 cinta dan saling memberi kecupan, sudah menjadi rutinitas dalam kehidupan perkawinan kami. Walau harus aku akui, bila dilihat secara prosentase, tetaplah aku yang lebih besar. Tidak mengapa, toh yang penting kebiasaan baik ini, tetap kami jalankan. Toh, aku sudah sangat mengenal suami, yang dari jaman pacaran-pun agak kesulitan mengungkapkan rasa cinta dalam kata2. Bahkan terkadang, sengaja aku memancing nya. Tidak mengapa, yang penting ‘i love you’ itu terucap juga, heeheeheeee.

Dan siang ini, senyum lebar terkuak di bibirku, saat kuterima pesan singkat dari suami via BBM.
“Hi sayang, i love you.” hanya itu. Sangat singkat, namun tetap terasa indah dan bermakna dalam. Makanya terpikir untuk berbagi kutipan pesan teman tadi. Dengan demikian, akan semakin banyak teman2 yang merasakan indahnya kata2 cinta. Tidak perlu berbelit2, tidak perlu berpuisi panjang lebar, tidak perlu waktu panjang. Cukup dengan kata2 yang singkat, namun sanggup untuk membuat pasangan, suami/istri kita merasa begitu dicintai. So, tunggu apalagi. Mulai saja dari sekarang. Seperti aku, yang masih berpikir untuk menuliskan kata apa, sebagai balasan ‘pesan cinta’ dari suami tadi.