Istana Cinta

P1000249Lagi2 kenangan selama aku di tanah suci, seperti berlompatan dari otakku, malam ini. Banyak hal2 istimewa yang aku dapatkan selama dalam ‘spiritual journey’ tsb. Ada pengalaman mengharukan, ada kisah membahagiakan, bahkan ada pula ‘romantic story’ yang terjadi. Hebat dan luar biasa, karena setiap hari aku menemukan kisah baru selama di Makkah dan Medina. Tentunya juga seru dan sangat2 berkesan.

Salah satu cerita romantisku ini, sangat aku gemari. Kisah romantis yang sama sekali tiada terniat untuk membuatnya. Sesungguhnya takdir Allah-lah yang telah menuliskannya. Saat kami, aku dan suami, mengikuti city tour di kota Medina. Kota tempat hijrahnya Rasulullah, dari Makkah. Kota yang begitu dicintai Rasulullah. Kota yang kemudian menjadi tempat peristirahatan terakhir Beliau. Juga kota tempat Masjid Nabawi, masjid yang dicintai Rasulullah, tegak berdiri. Kota yang juga aku senangi, seperti aku juga sangat mengagumi keindahan Masjid Nabawi.

Salah satu agenda tournya, adalah mengunjungi Masjid Quba. Masjid yang pertama didirikan Rasulullah SAW, saat menginjakkan kaki di kota Medina. Masjid yang juga cantik, walaupun masih kalah cantik dengan Masjid Nabawi. Kami disarankan untuk shalat sunat 2 rakaat di masjid ini. “Adapun pahala dari shalat sunat 2 rakaat di masjid ini, adalah setara dengan satu kali ibadah umroh,” papar sang pendamping grup kami. Sementara bila kita melaksanakan shalat sunat 12 rakaat, dengan khusyu’ dan ikhlas, InsyaAllah akan dibangunkan istana buat kita di syurga.” tambah muthoyyif ini.

Berbekal keikhlasan dan keinginan meraih ridhonya, bergegas kami melaksanakan shalat sunat dhuha. Karena kebetulan pada saat itu, matahari mulai merangkak, pertanda waktu shalat sunat dhuha. Sebelum berpisah di luar area wudhu’, aku dan suami berjanji untuk langsung kembali ke bis kami, begitu selesai shalat. Daripada tunggu2an, lebih baik langsung balik ke bis, pikir kami.

Selesai shalat sunat dhuha 2 rakaat, dan diikuti doa2, aku bergegas kembali ke parkiran bis. Memang waktu yang diberi tidaklah panjang, mengingat padatnya agenda tour hari ini. Satu persatu anggota grup telah kembali ke tempat duduk masing2. Namun ada yang kurang, suamiku belum kembali. Walau awalnya tenang2 saja, perlahan perasaanku mulai khawatir juga. “Kenapa Abang lama sekali shalatnya?” bisikku cemas. Sang muthoyyif juga mulai khawatir, dan menanyakan kepadaku. Manalah aku tahu, aku sendiripun juga cemas karena suamiku belum nampak jua sosoknya. Dan, entah kenapa, disaat butuh, hp-ku justru ketinggalan di kamar hotel.

Muthoyyif kami kemudian berinisiatif menyusul Abang kembali ke masjid. Tidak lama kulihat sosoknya berjalan beriringan dengan sang muthoyyif. Perasaan cemas dan khawati yang sedari tadi menggayutiku mulai terusir. Setelah meminta maaf atas keterlambatannya, ke semua anggota rombongan, Abang segera menempati kursinya di sebelahku. Tanya beruntun milikku, langsung menyambutnya. Wajarlah, wajar aku sangat penasaran. Tapi Abang senyum2 dikulum saja. Dengan wajah polosnya, memandangku hangat. Ahhh….benar2 membuat penasaran.

Akhirnya Abang bosan juga, mendengar rengekan pertanyaanku. “Aku tadi shalat sunatnya 12 rakaat, makanya agak lama,” jelas Abang dengan tenang. Wow….walaupun sudah aku duga, tapi aku kaget juga. Lalu pertanyaan lain justru mendesak buat mendapat jawabnya segera. Tanpa jeda, kuberondong lagi Abang dengan tanya berikutnya. “Berarti, Abang berharap dibuatkan istana di syurga ya? Terus kalau punya istana di syurga, Abang mau tinggal dengan siapa?” selidikku penasaran.

Jujur, aku telah menduga jawabannya. Namun saat Abang menjawab tanyaku itu, tetap ada rasa haru dan bahagia melingkupi hatiku. “Tentu saja aku ingin tinggal bersama istriku. Bersama Yoza, menghuni istana cinta di syurga,” jawab Abang mantap. Bahagiakah aku?? Sudah tentu!! Jawaban indah yang mungkin akan menjadi harapan setiap istri yang mencintai suaminya. Apalagi aku hapal karakter suamiku. Bertahun2 mengenalnya, aku tahu dia bukan tipe pria romantis. Dia bukan tipe yang suka mengumbar kata2 manis. Berarti jawaban itu, tulus dari hatinya. Jadi wajarlah bila aku sangat bahagia saat itu, setimpallah buat mengganti rasa cemasku sebelumnya.

Untuk membalas niat sucinya itu, kuraih lengannya. Kusandarkan kepalaku di lengan Abang. Dengan sudut mata, kutangkap senyum Abang menghias tipis di bibirnya. Lalu, sebuah kecupan ringan singgah di dahiku. Alhamdulillah, indah sekali nikmat Allah untukku, saat itu. Adakah cerita yang lebih indah, yang bisa mengalahkan kisah cinta suami istri?? Aku pikir tidak ada!!

Memang kisah romantis ini sudah berbilang tahun berlalu. Namun hingga hari ini, masih bisa kurasakan indah dan manisnya. Terkadang, besar juga hasratku untuk mengulang kembali kisah itu. Namun…..sepertinya tidak mungkin juga ya. Yang jelas, tetap terniat di hati kami buat memiliki ribuan kisah indah dan romantis. Walaupun kemudian hanya kuasa Allah-lah yang akan mengeksekusi rencana kami ini. Perkenankan Ya Rabb, pinta tulus kami, Aamiin YRA.
(for my lovely, ‘Yozie’)

One thought on “Istana Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s